Senin, Desember 28, 2009

Dinamika Pemerintahan SBY

Mirip dengan masa pemerintahannya yang pertama, awal pemerintahan SBY jilid II “disambut” dengan bencana nasional yang menimpa Padang, Sumatera Barat. Gempa berkekuatan 7,3 SR, seolah menjadi “sambutan meriah” bagi kemenangan SBY-Boediono (yang pada masa kampanye berslogan SBY BERBUDI) atau mungkin juga ini menjadi pertanda yang tidak begitu mengenakkan.
Setelah pelantikan, pemerintahan SBY-Budi digoncang isu “pelemahan KPK” yang di periode sebelumnya KPK begitu “bertaji” dan berhasil mengungkap skandal korupsi di negeri ini. Bahkan banyak anggota dewan yang ditangkap berkat kerja dari KPK. Melihat sepak terjang KPK yang begitu kuat, maka banyak pihak-pihak yang merasa tersisihkan sekaligus juga merasa “terancam”. Sehingga, muncul keinginan untuk membubarkan KPK. Di awali oleh penangkapan Antasari Azhar (Ketua KPK) yang terkait dengan kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, Direktur Rajawali Nusantara. Kasus yang cukup pelik karena penyebab yang melatarbelakanginya diduga karena masalah wanita. Heu heu terlalu lucu untuk orang sebesar Ketua KPK.
Isu pelemahan KPK ini menjadi besar tatkala dua pimpinan KPK yaitu Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah juga ditangkap polisi (dalam hal ini langsung ditangani oleh Mabes POLRI) terkait dugaan pemerasan terhadap Anggoro Widjojo. Kontan saja ini memicu munculnya istilah CICAK Vs BUAYA untuk menggambarkan perseteruan KPK yang disimbolkan cicak dengan POLRI yang disimbolkan buaya. Hal ini menjadi konsumsi publik selama berminggu-minggu. Bahkan dalam jejaring social di Internet muncul dukungan untuk kedua belah pihak. Saling bantah membantah dilakukan oleh kedua pihak terkait satu masalah yang dilemparkan ke public.
Di sisi lain, perseteruan KPK dengan POLRI yang tidak menemui titik ujung, membuat rakyat mendesak SBY untuk turun tangan mengatasi masalah ini. Sementara itu, SBY selalu saja berkelit bahwa dia tidak punya wewenang dalam bidang hokum untuk menentukan mana yang salah dan mana yang benar. Pada akhirnya SBY membentuk tim pencari fakta (tim 8, karena berjumlah 8 orang : Adnan Buyung, Deni, Anis Baswedan dll) untuk menyelesaikan masalah ini. Hasil akhirnya Bibit – Chandra dinyatakan bebas dan SBY mencanangkan program “Berantas Markus alias Mafia Kasus”.
Goncangan terhadap pemerintahan SBY tidak berhenti sampai disitu. Sekitar November 2009 mencuat kasus bank Century, yang melibatkan dua pejabat pemerintahan yaitu MenKeu Sri Mulyani dan WaPres Boediono. Hampir 7 triliyun uang Negara digelontorkan ke Bank Century yang ternyata uang tersebut berhasil “dimanfaatkan” oleh pihak-pihak tertentu. Nah, Boediono, Sri Mulyani, termasuk Tim Kampanye SBY juga diduga menjadi bagian dari pihak-pihak tersebut. DPR pun kembali membentuk tim Pansus ANgket Century. Paling update adalah munculnya buku “Gurita Cikeas” yang berusaha “mengidentifikasi” hubungan yayasan yang dimiliki oleh SBY dan Ny. SBY dengan Uang dari Century.
kira-kira ke depan ada kasus apalagi y??? hmmmm

Selasa, November 03, 2009

BAB II Pusat SUmber Belajar

1. Pengertian Pusat Sumber Belajar
Beragamnya jenis sumber belajar, menuntut adanya pengelolaan dan pengorganisasian terhadap sumber belajar tersebut. Hal ini bertujuan agar sumber belajar mudah untuk diakses dan juga dimanfaatkan oleh pihak yang berkepentingan. Oleh karena itu dibentuklah Pusat Sumber Belajar. Timbulnya pusat sumber belajar dimungkinkan pula oleh pertumbuhan berikutnya yang berupa pengakuan akan semakin dibutuhkannya pelayanan dan kegiatan belajar non-tradisional yang membutuhkan ruangan belajar tertentu sesuai dengan kebutuhan, misalnya belajar mandiri dengan modul, simulasi dan permainan, dan sebagainya.
Menurut Sukorini (Warsito,2008:215) Pusat sumber belajar merupakan tempat di mana berbagai jenis sumber belajar dikembangkan, dikelola dan dimanfaatkan untuk membantu meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan pembelajaran. Merril dan Drob berpendapat bahwa Pusat sumber belajar merupakan suatu aktivitas yang terorganisasi yang berhubungan dengan kurikulum dan pembelajaran pada suatu satuan pendidikan (Warsito, 2008:215). Dengan demikian, Pusat sumber belajar merupakan sarana untuk mengelola dan mengembangkan sumber belajar.
Pusat sumber belajar sering disebut juga sebagai media center, yang diartikan sebagai lembaga yang memberikan fasilitas pendidikan, pelatihan, dan pengenalan berbagai media pembelajaran. Pusat sumber belajar dirancang untuk memberikan kemudahan kepada peserta didik baik secara individu maupun kelompok atau guru untuk memanfaatkan sumber belajar yang tersedia. Dengan demikian, kebutuhan akan sumber belajar dalam proses pembelajaran bisa terpenuhi dengan adanya pusat sumber belajar.
Pembentukan Pusat sumber belajar juga didasari oleh pentingnya sebuah lingkungan dalam mendukung proses belajar siswa. Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu faktor pendukung siswa dalam belajar adalah kondisi lingkungan yang nyaman. Dengan adanya Pusat sumber belajar, siswa bisa diorientasikan untuk melakukan proses belajar di tempat tersebut. Dengan demikian, pusat sumber belajar yang sudah disetting sedemikian rupa agar memberikan kenyamanan pada penggunanya, dapat membantu siswa dalam proses belajar. Pengembangan sistem pembelajaran menuntut peningkatan efektifitas kegiatan belajar mengajar dengan memberikan penekanan pada aktivitas siswa dimana kegiatan belajar di kelas dan pusat sumber belajar merupakan suatu rangkaian kegiatan yang terpadu.
Ada beberapa contoh yang merupakan pusat sumber belajar, diantaranya yaitu perpustakaan, laboratorium, taman belajar dan yang lainnya.

2. Tujuan dan Fungsi Pusat Sumber Belajar
Pengembangan sistem pembelajaran adalah suatu proses yang sistematis dan terus menerus, yang akan membantu pengajaran dalam mengembangkan pengalaman-pengalaman belajar yang memungkinkan partisipasi aktif siswa di dalam proses belajar-mengajar. Di sinilah letak hubungan yang penting antara pusat sumber belajar dengan pengembangan sistem pembejaran. Segala sumber dan bahan serta personil yang ada di dalam pusat sumber belajar dimaksudkan untuk membantu efektifitas dan efisiensi interaksi siswa dan pengajar dalam proses pembelajaran.
Secara umum, tujuan dari Pusat sumber belajar adalah untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan proses belajar mengajar melalui pengembangan sistem pembelajaran. Hal ini dilaksanakan dengan menyediakan berbagai macam pilihan untuk menunjang kegiatan kelas tradisional dan untuk mendorong penggunaan cara-cara yang baru (non-tradisional), yang paling sesuai untuk mencapai tujuan program akademis dan kewajiban-kewajiban institusional yang direncanakan lainnya.
Selain itu, secara khusus pusat sumber belajar bertujuan untuk :
 menyediakan berbagai macam pilihan komunikasi untuk menunjang kegiatan kelas tradisional.
 Mendorong penggunaan cara-cara belajar baru yang paling cocok untuk mencapai tujuan program akademis dan kewajiban institusional lainnya.
 Memberikan pelayanan dalam perencanaan, produksi, operasional, dan tindak lanjut untuk pengembangan sistem pembelajaran yang ada.
 Melaksanakan latihan untuk para tenaga pengajar mengenai pengembangan sistem pembelajaran dan integrasi teknologi dalam proses pembelajaran.
 Memajukan usaha penelitian yang perlu tentang penggunaan media pendidikan.
 Menyebarkan informasi yang akan membantu memajukan penggunaan berbagai macam sumber belajar dengan lebih efektif dan efesien
 Menyediakan pelayanan produksi bahan ajar
 Memberikan konsultasi untuk modifikasi dan desai fasilitas sumber belajar.
 Membantu mengembangkan standar penggunaan sumber-sumber belajar
 Menyediakan pelayanan pemeliharaan atas berbagai macam peralatan.
 Membantu dalam pemilihan dan pengadaan bahan-bahan media dan peralatannya.
 Menyediakan pelayanan evaluasi untuk membantu menentukan efektifitas berbagai cara pengajaran.

Dari uraian tujuan khusus di atas, jelaslah bahwa pusat sumber belajar mempunyai peranan yang cukup menentukan di dalam meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses pembelajaran. Dengan demikian dari awal hendaklah selalu kita sadari bahwa pusat sumber belajar bukan semata-mata suatu tempat ataupun gudang penyimpanan berbagai macam peralatan dan bahan pengajaran.
Misi yang pertama dari pusat sumber belajar adalah pengembangan sistem pembelajaran terpadu yang merupakan sarana utama untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan belajar dan mengajar. Segala fungsi dan kegiatan yang dilaksanakan pusat sumber belajar, termasuk pengadaan, pelayanan perpustakaan bahan pengajaran, dimaksudkan untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan misi tersebut.
Berdasarkan tujuan umum dan tujuan khusus di atas, pusat sumber belajar mempunyai fungsi dan kegiatan sebagai berikut :
a. Fungsi pengembangan sistem intruksional
Fungsi ini menolong jurusan atau departemen dan staf tenaga pengajar secara individual di dalam membuat rancangan (desain) dan pemilihan options (pilihan) untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses belajar dan mengajar, yang meliputi :
 Perencanaan kurikulum
 Identifikasi pilihan program pembelajaran
 Seleksi peralatan dan bahan
 Perkiraan biaya
 Pelatihan bagi tenaga pengajar
 Perencanaan program
 Prosedur evaluasi
 Revisi program


b. Fungsi informasi
Dalam kehidupan sehari-hari orang sering memerlukan informasi, baik untuk keperluan pribadi maupun untuk keperluan usahanya. Ada beberapa macam sumber informasi, seperti pusat komputer (puskom), bahan bacaan, radio, televisi, perorangan, lembaga, dan sebagainya. Jika informasi yang diperlukan hanya sedikit dan yang memerlukannya juga sedikit, maka bahan informasinya dapat disimpan dalam satu file. Jika yang memerlukannnya lebih banyak, maka perlu dibentuk perpustakaan lengkap dengan katalognya. Bahkan jika lebih banyak lagi, harus menggunakan data base computer.

c. Fungsi pelayanan media
Fungsi ini berhubungan dengan pembuatan rencana program media dan pelayanan pendukung yang dibutuhkan oleh staf pengajar dan pelajar, yang meliputi :
 Sistem penggunaan media untuk kelompok besar
 Sistem penggnaan media untuk kelompok kecil
 Fasilitas danprogram belajar sendiri (individual)
 Pelayanan perpustakaan media/bahan pengajaran
 Pelayanan pemeliharaan dan peminjaman/sirkulasi
 Pelayanan pembelian bahan-bahan dan peralatan



d. Fungsi produksi
Fungsi ini berhubungan dengan penyediaan materi dan bahan pelajaran yang tidak dapat diperoleh melalui sumber komersial, yang meliputi :
 Penyimpanan karya seni asli (original atwork) untuk tujuan pembelajaran
 Produksi transparansi untuk OHP
 Produksi fotografi (slide, filmstrip, foto, dan lain-lain) untuk presentasi
 Pelayanan reproduksi fotografi
 Pemrograman, pengeditan, dan reproduksi rekaman
 Pemrogaraman, pemeliharaan, dan pengembangan system radio dan televisi di kampus.

e. Fungsi administratif
Fungsi ini berhubungan dengan cara-cara bagaimana tujuan dan prioritas program dapat tercapai. Fungsi ini berhubungan dengan semua segi program yang dilaksanakan dan akan melibatkan semua staf dan pemakai dengan cara-cara yang sesuai. Hal ini meliputi beberapa kegiatan sebagai berikut :
 Supervisi personalia untuk media.
 Pengembangan koleksi media untuk program pembelajaran
 Pengembangan spesifikasi pendidikan untuk fasilitas baru
 Pengembagan sistem peminjaman/sirkulasi
 Pemeliharaan kelangsungan pelayanan produksi bahan pembelajaran
 Penyediaan pelayanan untuk pemeliharaan bahan, peralatan, dan fasilitas.
Kelima fungsi pusat sumber belajar dengan kegiatan-kegiatan di atas merupakan fungsi dan kegiatan yang ideal. Seberapa jauh kegiatan yang ideal tersebut dapat dilakasanakan oleh pusat sumber belajar, akan sangat bergantung pada tujuan program pembelajaran, fasilitas, peralatan yang dimiliki, staf dan personalia yang ada dalam pusat sumber belajar yang bersangkutan.
Namun demikian dapatlah dipastikan bahwa kelima fungsi diatas akan selalu dijumpai dalam setiap pusat sumber belajar sebagai suatu lembaga yang berusaha untuk memajukan efektivitas dan efisiensi kegiatan pembelajaran. Yang berbeda hanyalah kegiatan-kegiatan nyata yang berhubungan dengan keempat fungsi di atas, sesuai dengan adanya pembatasan-pembatasan yang terdapat pada masing-masing pusat sumber belajar.

3. Pengembangan Pusat Sumber Belajar
Seiring dengan perannya yang penting dalam proses pembelajaran, maka perlu adanya upaya pengembangan pusat sumber belajar. Prinsip pengembangan pusat sumber belajar didasarkan pada tercapainya tujuan pembelajaran dan adanya kemudahan bagi peserta didik dalam proses belajar. Dalam mendesain dan mengembangkan suatu pusat sumber belajar, diperlukan suatu proses yang sistematis (teratur) dan sistemis (menyeluruh).
Strategi pengembangan pusat sumber belajar terdiri dari empat tahap, yaitu :
a. Tahap analisis kebutuhan
Tahap ini merupakan tahap awal dalam proses pengembangan pusat sumber belajar. Pada tahap ini, dilakukan analisis mengenai adanya perbedaan antara keadaan yang diharapkan dengan keadaan yang terjadi. Hasil dari analisis ini adalah ditemukannya masalah, yang kemudian masalah tersebut akan dicari pemecahannya. Hasil ini diharapkan dapat memberikan gambaran nyata mengenai pengelolaan dan pemberdayaan sumber-sumber belajar yang telah ada terhadap pencapaian tujuan dan kompetensi pembelajaran.
b. Tahap pengembangan sarana dan program
Tahap pengembangan sarana pusat sumber belajar harus berorientasi pada lima fungsi dari pusat sumber belajar, sebagaimana yang telah dijelaskan di awal. Hal ini dilakukan agar pengembangan pusat sumber belajar tidak keluar dari fungsi yang sebenarnya. Seiring dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan teknologi, terutama perkembangan teknologi informasi, maka pengembangan pusat sumber belajar juga harus berorientasi pada pemanfaatan teknologi informasi. Pengadaan sarana-sarana yang ada harus sudah menggunakan sistem jaringan yang terintegrasi dengan sumber-sumber belajar yang dibutuhkan. Selain itu, pengadaan sarana pendukung yang ada dalam pusat sumber belajar merupakan hal yang tidak boleh dilupakan.
Selain pengembangan sarana, juga dilakukan pengembangan program pusat sumber belajar yang tentu saja berorientasi pada tujuan pusat sumber belajar. Dalam pengembangan program, dibutuhkan adanya SDM yang berkualitas dan professional. Hal ini dimaksudkan agar pengembangan program bisa memenuhi kebutuhan yang diharapkan. Sebagai contoh pengembangan program adalah penambahan sumber belajar, berupa media dan bahan ajar yang berbentuk cetak ataupun no cetak. Selain itu juga mengadakan pelatihan-pelatihan pengembangan media pembelajaran.
c. Tahap implementasi
Tahap implementasi pusat sumber belajar merupakan tahap aplikasi atau pendayagunaan pusat sumber belajar. Dalam pelaksanaannya, pusat sumber belajar yang akan digunakan hendaklah disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan satuan pendidikan atau lembaga yang akan mengembangkannya. Hal ini dimaksudkan agar keberadaan pusat sumber belajar tidak menjadi permasalahan bagi lembaga yang bersangkutan. Sebagai contoh, sebuah lembaga pendidikan yang memiliki tempat terbatas, maka dapat mendirikan dan mengembangkan pusat sumber belajar secara bertahap, sesuai dengan tempat yang tersedia. Untuk kemudian, setelah kemampuan lembaga tersebut bertambah, maka pengembangan pusat sumber belajar dapat terus dilakukan.
d. Tahap pengelolaan
Pengelolaan pusat sumber belajar adalah kegiatan yang berkaitan dengan pengadaan, pengembangan/produksi, dan pemanfaatan sumber belajar serta upaya untuk terus memperbaiki dan meningkatkan sarana dan program-programnya. Hal ini tentu saja membutuhkan pengelola yang profesional dan berkualitas. Untuk memudahkan proses pengelolaan, maka perlu adanya suatu pengorganisasian tenaga kerja yang sudah memiliki sistem kerja masing-masing. Struktur organisasi pusat sumber belajar disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan tenaga kerja yang ada.

Pengembangan Pusat Sumber Belajar Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran__BAB I

Salah satu kebutuhan manusia terkait dengan eksistensinya dalam kehidupan adalah kebutuhan akan pendidikan (Dharsono, 2008:1). Pendidikan merupakan sebuah proses yang panjang dan bertahap. Dalam Undang-undang RI No. 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional dikatakan bahwa :
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”

Dari pengertian di atas, dikatakan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana agar peserta didik dapat mengembangkan potensinya. Rumusan ini menyiratkan bahwa proses pendidikan sebagai suatu usaha sadar haruslah dilakukan dengan jelas, bermakna, dan terencana. Pandangan ini bersesuaian dengan dengan apa yang dikemukakan oleh Hamid Hasan (1996 : 3) yang mengatakan, usaha sadar membawa konsekuensi bahwa apa yang akan dicapai dari suatu pendidikan harus jelas, bagaimana mencapainya harus pula terencana dan jelas. Cara yang digunakan untuk mencapainya harus jelas pula.
Pendidikan adalah salah satu upaya untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dan tangguh. Manusia sebagai makhluk hidup memiliki keunggulan berupa akal, di mana dengan segenap daya yang dimilikinya, manusia mampu merekayasa lingkungannya, baik itu lingkungan alam maupun lingkungan sosial, secara kreatif, dinamis, dan efektif. Pendidikan juga bertugas untuk dapat mempersiapkan SDM yang kompeten agar mampu bersaing dalam dunia global.
Pencapaian tujuan pendidikan nasional dapat dilaksanakan melalui pengembangan pembelajaran di sekolah. Menurut BSNP (Warsita, 2008:259) kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Dengan demikian, pembelajaran di sekolah pada dasarnya merupakan interaksi yang dinamis antara siswa dan guru serta sumber belajar dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Pada dasarnya, proses pembelajaran juga merupakan proses komunikasi yang di dalamnya mengandung tiga komponen pokok, yaitu pengirim pesan (guru), penerima pesan (siswa) dan pesan itu sendiri (materi pelajaran). Dalam pelaksanaannya, materi pelajaran yang disampaikan oleh guru pada siswa, sering terjadi miss communication. Materi yang disampaikan tidak dapat diterima dengan optimal oleh siswa dan bahkan bisa terjadi salah persepsi terhadap isi pesan yang disampaikan. Hal ini kemudian menyebabkan tidak tercapainya tujuan pembelajaran yang diinginkan.
Untuk membantu peserta didik mencapai berbagai kompetensi yang diharapkan, pelaksanaan atau proses pembelajaran perlu diusahakan agar interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan kesempatan yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Analisis terhadap standar kompetensi dan kompetensi dasar juga merupakan bagian sangat penting dalam mendukung keseluruhan komponen dari materi pembelajaran tersebut. Selain itu, penggunaan dan pemanfaatan media pembelajaran mutlak diperlukan untuk mendukung proses pembelajaran yang maksimal.
Seiring dengan perubahan paradigma pembelajaran, maka keberhasilan kegiatan belajar mengajar tidak hanya ditentukan oleh faktor pengajar, melainkan juga sangat dipengaruhi oleh keaktifan pembelajar. Kurikulum baru tahun 2006 mempertegas bahwa proses pembelajaran harus berpusat pada peserta didik. Guru bukan merupakan satu-satunya sumber belajar atau sumber informasi, melainkan berperan sebagai fasilitator, dinamisator, dan motivator dalam pembelajaran. Peserta didik seharusnya tidak hanya belajar dari guru saja, tetapi juga belajar dengan berbagai sumber belajar yang tersedia di lingkungannya. Akan tetapi, kenyataan di lapangan justru sebaliknya. Kegiatan pembelajaran yang terjadi justru lebih banyak menunjukkan dominasi dari tenaga pendidik (guru), sedangkan peserta didik bersikap pasif. Hal ini kemudian menjadikan proses pembelajaran yang terjadi hasilnya kurang begitu memuaskan.
Salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut di atas adalah belum dimanfaatkannya berbagai sumber belajar secara maksimal, baik oleh guru maupun peserta didik dalam setiap proses pembelajaran. Sekalipun para guru memahami bahwa strategi pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar sangat menunjang atau membantu meningkatkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran, namun pada kenyataannya, masih banyak guru yang menyelenggarakan kegiatan pembelajaran tanpa didukung oleh berbagai sumber belajar. Sebagian guru mengatakan bahwa walaupun mengajar dengan menggunakan buku teks, namun para peserta didik sudah memperlihatkan prestasi belajar yang memadai atau bahkan cukup membanggakan. Sebagian guru lainnya mengatakan bahwa mencari sumber-sumber belajar lainnya di luar buku teks yang sudah ditetapkan menyita waktu dan membutuhkan biaya. Sebagian guru lainnya mengatakan bahwa untuk apa repot-repot memikirkan pemanfaatan berbagai sumber belajar dalam kegiatan belajar-mengajar (KBM) jika tidak ada konsekuensinya yang dapat dirasakan.
Sumber belajar sebagai komponen sistem pembelajaran perlu dikembangkan keberadaannya maupun pemanfaatannya dalam kegiatan pembelajaran (Miarso, 2004:77). Dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar secara optimal, peserta didik akan termotivasi untuk berpikir logis dan sistematik sehingga memiliki pola pikir yang nyata dan semakin mudah memahami hubungan materi pelajaran dengan lingkungan alam sekitar serta kegunaaan belajar dalam kehidupan sehari-hari.
Sumber belajar selama ini dianggap sebagai suatu barang yang sulit dan membutuhkan biaya tinggi untuk mendapatkannya, Hal ini terjadi karena guru ataupun peserta didik kurang memiliki kreatifitas dan inovasi dalam memanfaatkan bahan-bahan atau benda-benda yang berada disekitar lingkungannya. Pemanfaatan belum berjalan secara baik dan optimal, banyak guru yang masih menggunakan paradigma lama, yaitu mengajar dengan hanya bersumberkan pada buku pelajaran yang ada dan tidak memiliki motifasi dan inovasi untuk menciptakan sumber belajar yang dapat membantu guru menyampaikan materi pelajaran.
Pada dasarnya, sumber belajar yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran sangatlah banyak dan beragam jenisnya. Oleh karena itu, perlu adanya suatu upaya untuk mengelola dan mengembangkan sumber belajar yang tersedia. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan membentuk Pusat Sumber Belajar.
Pentingnya sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran tidak bisa kita pungkiri lagi. Akan tetapi, sumber-sumber belajar yang ada di sekolah dan lembaga pendidikan lain saat ini, pada umumnya belum termanfaatkan secara optimal. Pun demikian dengan adanya pusat sumber belajar di setiap instansi pendidikan, masih belum dikelola dan di berdaya gunakan dengan baik. Oleh karena itu, menjadi sebuah keharusan bagi tenaga pendidik untuk memahami apa itu sumber belajar dan bagaimana mengelola dan memanfaatkan pusat sumber belajar, agar tercapai pembelajaran yang menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Minggu, Juli 26, 2009

Kenapa begini jadinya?????

Comment2an
Sms an
Teleponan
Bubaran…

Wahhhhh….aneh…kenapa dulu kamu merayuku???
kenapa kamu menantangku??? Bukankah aku dulu tak menginginkan ini????
Ini lah yang aku takutkan……
Dari awal aku ga pernah mau serius……tapi kamu selalu menggoda ku…
Aku selalu berusaha bertahan……tapi kau selalu menyerang…
Aku bilang g mau memiliki, karena takut kehilangan…
Tapi, waktu terus berjalan…tidak selamanya pendirian orang tetap bertahan…selalu ada perubahan…
Hatiku akhirnya goyah…
Ku cari semua alasan yang membenarkanku untuk serius dengan mu…
Ku tentang semua yang ku yakini dulu…hanya untuk serius dengan mu…
Tapi………ah………saat aku serius kenapa kau putuskan untuk berakhir????

Senin, Juli 20, 2009

Taman ini dan Bibit itu.....

Kemarin-kemarin….ada seseorang yang menitipkan suatu bibit yang sangat berharga di taman ku. Dengan kemampuan bahasanya, dia meyakinkan bahwa bibit itu sangat bagus dan berharga untuk ku. Singkatnya cocok untuk taman ku. Aku masih berfikir dan merenung sekarangkah saatnya ku menanami taman ku lagi?? Jawaban awal adalah belum saatnya. Maka, si bibit tersebut ku simpan di tempat yang aman dan nyaman. Setiap hari, si penitip bibit datang dan menanyakan sudah ditanamkah bibit tersebut. Dan setiap pertanyaan itu pula aku jawab belum, namun aku berusaha untuk tidak mengecewakan si penitip dengan selalu menjaga dan membersihkan bibit tersebut. Pernah si penitip menanyakan alasan mengapa bibit tersebut tidak pernah ku tanam? Aku hanya bilang, takut tanah di taman ku tidak cocok dengan bibit tersebut, sehingga bibit yang bagus tidak bisa tumbuh dengan sempurna. Harapan ku adalah si penitip bisa mengerti akan alasan ku tersebut.
Seingatku, taman ku pernah satu kali ditanami, itupun dulu…duluuuuu sekali…hasilnya kurang bagus, sehingga aku merasa bahwa tanah di taman ku belum cocok untuk di tanami. Kekuranganku, aku tak pernah belajar dan mencari tau bagaimana memanfaatkan tanah yang ada di tamanku, sehingga jika suatu saat aku punya bibit atau ada orang lain yang hendak menitipkan bibitnya, aku bisa mengelolanya dengan baik dan tentu saja dengan hasil yang memuaskan…dalam perjalanan, sering aku menemukan bibit-bibit yang aku senangi, namun tidak pernah aku serius untuk menanamnya di tamanku. Hingga suatu saat si penitip datang dan kisahpun berlanjut sebagaimana diceritakan di awal.
Detik berganti jam, jam berganti hari, hari pun berganti menjadi minggu. Lambat laun, aku mulai tertarik pada bibit tersebut. Di tambah si penitip pernah memberikan penuntun bahwa meskipun tanah di taman ku kurang cocok, namun dengan perawatan yang baik dan perhatian yang penuh, semua bisa di atasi. Maka, aku mulai mencoba untuk menanam bibit tersebut di taman ku. Tahap pertama, aku memberikan keyakinan pada diri ini bahwa tanah di taman ku akan cocok dengan bibit yang diberikannya. Aku pun berharap si bibit akan suka dengan tanah di taman ku. Nampaknya, keyakinanku sedikit terjawab, bahwa tanah ku terlihat menyukai bibit yang aku tanam. Tanah yang tadinya gersang kini terlihat lembab. Entah bagaimana dengan si bibit, tapi aku harap juga sama.
Tahap berikutnya, ku berikan sedikit sentuhan kasih sayang…ku sirami, dan kuberi penggembur agar tanah semakin subur, ku siapkan pembasmi hama agar ketika hama menyerang aku telah siap berperang. Namun sayang…saat tanah di tamanku semakin subur, hama sering datang menggempur, kadang kurasa si bibit tengah berusaha kabur, tapi ku coba bertahan agar tak hancur lebur, Dan kini, aku hanya berharap tanah dan bibit kembali akur, agar taman ku menjadi makmurrr…….

Selasa, Januari 06, 2009

REFLEKSI AKHIR TAHUN : MUHASABAH DIRI, MERAIH RIDHA ILLAHI

“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab”
(Umar bin Khattab r.a)
(suara terompet) Tooot…tooottt…tooottt……
Happy new year…happy new year….

Kurang lebih begitulah ungkapan yang muncul tatkala jam menunjukkan pukul 00.00 WIB, tanggal 1 januari. Terlepas dari tahun yang mengikutinya, yang pasti kegiatan atau aktivitas yang dilakukan pasti tidak jauh beda dari apa yang digambarkan di atas. Meniup terompet dan saling mengucapkan selamat tahun baru. Canda tawa biasanya lebih sering menghiasi suasana tahun baru ini. Bahagia hati karena masih dapat merasakan kenikmatan tahun baruan, mungkin merupakan salah satu alasannya. Namun sadarkah kita semua bahwa dengan bertambahnya tahun, sesungguhnya telah berkurang usia dunia ini?? Layaknya ulang tahun pribadi, yang sebenarnya sisa usia kita menghirup udara di dunia ini semakin berkurang, pun demikian dengan tahun baru. beberapa tahun mendatang, adalah saat-saat penantian kita menunggu datangnya ajal. Ya…kematian. Itulah yang sesungguhnya kita lakukan di dunia ini, menunggu datangnya kematian. Sudah siapkah kita menyambut datangnya kematian?? Bagaimana tingkah laku kita selama hidup di dunia ini?? Sudah cukupkah amalan kita untuk di hisab (perhitungkan) nanti?? Atau memang kita merasa tubuh kita ini kuat akan siksa dan azab yang akan menimpa kita kelak?? Naudzubillah……
Tahun baru telah kita lalui. Sudahkah kita merancang apa yang akan kita lakukan dan apa yang harus kita dapatkan setahun ke depan?. Sebelum merancang hal tersebut, ada baiknya jika kita melihat kembali ke belakang. Tahun baru, adalah saat yang tepat untuk refleksi diri. Apa yang telah kita lakukan selama setahun kebelakang?? Bermanfaat atau lebih banyak menimbulkan kesengsaraan?? Seberapa besar kita menolong orang dan berbuat kebaikan untuk menambah amal?? Bandingkan dengan kejahatan dan dosa yang telah kita lakukan??
Refleksi “ruhiyah” Kita
Sejauh yang saya pahami, ruhiyah dekat dengan ruhani dan lebih menekankan pada seberapa besar kita beribadah, berapa banyak kita menghadap Allah. Secara sederhana dan dalam tingkat yang saya rasa cukup dekat dengan kita adalah Shalat 5 waktu, tilawah Qur’an, Shaum (wajib dan sunnah) dan ibadah lainnya. Saya lebih menekankan hal ini (evaluasi ruhiyah) karena beberapa hal, salah satu diantaranya yaitu Tugas Manusia
Secara umum tugas manusia di dunia ini adalah sebagai khalifah di muka bumi dan semata-mata untuk beribadah pada Allah SWT. Dalam surat Al-Baqarah ayat 30 Allah berfirman yang artinya : “ dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan Khalifah di bumi…….”. kemudian dalam surat Az-Zariyat ayat 56, Allah SWT berfirman “ Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah pada-Ku”. Nah..bagaimana ibadah kita kepada Allah di tahun 2007?? Sudahkah kita tepat waktu dalam shalat ?? tidakkah shaum kita bocor?? Maka salah satu evaluasi akhir tahun kita adalah bagaimana tanggungjawab kita terhadap kedua tugas tersebut. Dengan bergantinya waktu (tahun), semoga semangat kita untuk melaksanakan tugas tersebut juga semakin bertambah giat.
Muhasabah diri
Berapa kali mata kita berbuat dosa?? Berapa kali tangan ini berbuat kesalahan?? Berapa kali mulut ini tak kuasa untuk berkata kotor?? Berapa kali telinga ini mendengar apa yang seharusnya tidak didengar?? Berapa banyak kaki kita melangkah pada tempat-tempat yang diharamkan?? Pernahkah kaki ini terasa ringan untuk melangkah ke mesjid?? Berapa..berapa…dan berapa lagi yang akan kita pertanggungjawabkan dihadapannya??
Hai manusia….. kebaikan yang kecil akan dibalas, begitu juga kesalahan yang kecil akan menerima balasannya.
“Jangan melihat kecilnya dosa atau kesalahan yang dilakukan, tapi lihatlah Maha Besarnya Dzat yang kau tentang”. “Dosa besar akan hilang jika hanya dilakukan sekali dan langsung dihapus dengan taubat nasuha, tapi dosa kecil akan sangat melekat jika itu terus dilakukan berulang-ulang.”.
Ya…Allah…ampunilah dosa kami, sungguh kami dzalim pada diri kami sendiri, jika Engkau tidak mengampuni sungguh kami orang yang merugi. Ya Allah, izinkan kami untuk bertaubat pada-Mu, jangan tutup hati kami dari cahaya-Mu, dari hidayah-Mu, bombing kami untuk selalu berada di jalan-Mu. Ya Allah ya rahman ya rahiim, muliakan kehidupan kami di dunia dan akhirat, selamatkan kami dari azab neraka-Mu”.