Minggu, April 19, 2020

Test Video

Indonesia pernah mengalami masa dimana harus menghadapi ancaman dan gangguan dari dalam negeri. Apa saja ancaman tersebut?

silahkan menyaksikan Video berikut ini

Jumat, Agustus 01, 2014

Pengaruh Endangisme Bagi Si Pemilik Akun \=D/

Yeaaaahhh.....kembali bercumbu dengan tuts keyboard si Zerry My white Lappy.... After Mudik ke kampung halaman, ko jadi kangen kutak ketik lagi. rindu tulas tulis lagi, berceloteh ria kesana kemari, tentang apapun 

Sebenarnya udah banyak yang ingin dicurahkan, mulai tentang pilpres, standup, and last about Ied Mubarok 1435 H. Cuma ya biasa, masalah klasik,, "ga ada waktu..." ... ada waktu tapi ngeblank....nggak ngeblank lgi ga di depan lappy...ya akhirnya tidak ada yang dihasilkan satupun. So....sekarang akan coba dimulai tuk mencurahkannya, kembali ngocoblak lagi. Sementara yang dicurahkan tentang Mang Endang dulu. Kenapa Mang Endang??? makanya baca aja sampe tuntas ya :D  

Tentang Mang Endang 
Siapa itu mang endang??? jawabannya pasti "ya mamang (paman) ku lah". Ga bakalan panjang lebar juga ngejelasin siapa sebenarnya mang Endang ini, coz ga banyak juga yang ditau tentangnya, cuma sekilas saja, maklum jarak yang terpisahkan cukup jauh (sampe kurang lebih 300Km) membuat kami jarang bertemu jadi tidak tau satu sama lain secara lebih mendalam. Lalu kenapa menulis tentang Mang Endang?? Nah, inilah alasannya kenapa harus baca sampai tuntas ni tulisan hahahah.....Yang pasti, tema tulisan ini tentang My Inspirator.  
Jadi siapa mang endang itu?? Inspirasi lo??? 
Uuhhh....ga sabar banget siihhh.... :p Okokokok....gue mulai cerita ya :D Mang Endang itu adalah adik bungsu dari ibuku. Lahir dan besar di Ciamis, tepatnya di Dusun Puhun desa Cinyasag Kec. Panawangan Kabupaten Ciamis. Pendidikan Dasar dan menengah ditunaikan di kota kelahirannya dengan predikat Murid Pintar , sebab prestasi di sekolahnya tidak pernah keluar dari rangking 3 besar (maklum, jaman dulu sekolah masih dirangking coyy hahaha). Lanjut ke perguruan tinggi, kota Purwokerto menjadi tempat pelabuhannya, tepatnya di UnSoed (universitas Jend. Sudirman) melalui jalur Sipenmaru. Kenyang asam garam bangku kuliah (maklum, kuliahnya rada lama :p ), sosok yang sering disebut Epot (bahkan akun fb nya pun menggunakan nama tenar di kampung halamannya) ini kemudian mengadu nasib mencari kerja di tanah kelahiran. Hingga akhirnya, pekerjaannya yang sekarang mengantarkannya untuk menjelajah Nusantara (meski belum semua pulau tentunya). Di balik kesuksesannya tersebut Mang Endang belum memiliki pendamping hidup alias masih bujangan. Jadi, buat kalian yang baca tulisan ini, merasa masih single kirimkan az lamaran kalian, nama tidak masalah yang penting jenis kelamin beda hahaha.... :p *lol*  
Cukup tentang Mang Endang nya??? Belum...ok gue terusin 
Hobinya (sepertinya, tapi pasti sih kayaknya :D ) adalah sepakbola, dengan klub favoritnya The Red Devils Malingping United....ehh salah Manchester United apalagi The Gold Generation '92 nya, dengan Sir Asep Fergusep sebagai Manager nya *LoL . Untuk level lokal, The Bandung Tiger (Maung Bandung *Lol* ) merupakan klub kesayangan, plus tentu saja PSGC (Galuh Ciamis) yang selalu didoakan untuk masuk di ISL. Makanan Kesukaan sih apa saja dimakan asal jangan yang keliatan "biji" nya seperti tomat, terong, leunca, bahkan cabe pun menjadi menu horror yang paling menyeramkan bagi Mang Endang. Jadi buat kalian yang mau bikin mang Endang bete, ajakin makan aja, tapi pake sambel tomat lalabnya leunca hahaha :p 
Udah ahh cerita Mang Endang nya, nanti malah ga nyampe ke inti cerita :D Oiaaa satu lagi aja, sepertinya Film bergenre komedi lebih mendapat tempat di hati mang endang, ketimbang film kartun (ya iyaaa lahhh....secara gitu usia kecilnya kan ga kenal ama film kartun, taunya film unyil usro pa raden hehehe)  

Mazhab Endangisme bagiku  
Endangisme??? apalagi itu?? Sesuatu yang berakhiran isme biasanya bersifat paham, pemikiran atau aliran yang berkembang di masyarakat. Jika kata awalnya merupakan konsep, maka arti dari kata itu adalah paham yang dianut masyarakat (misal nasional + isme = nasionalisme, liberal+isme = liberalism), kadang juga dilekatkan pada siapa yang membawa aliran atau pikiran yang dianut masyakarat (misal Pemikiran Karl Marx = Marxisme, pemikiran Soekarno = Soekarnoisme). Jadi udah bisa ditebakkan apa itu Endangisme??? Yaaa….pemikiran seorang Mang Endang yang kemudian disebarkan dan dianut oleh orang lain. Tidak dalam lingkup luas tentu saja, karena buktinya tidak pernah dibahas di bangku sekolah, tidak pernah ada diskusi tentang mazhab Endangisme ini, dan memang tidak popular dikalangan khalayak ramai. Lalu dimana mazhab ini beredar?? Sssttt….jangan ribut ya, nanti ketahuan densus 48 (JKT keleess :D )…mazhab ini beredar di lingkungan………….”keponakannya doank” hahaha…. *LoL Ya…..semua keponakannya pasti terkena mazhab Endangisme, termasuk gue diantaranya :D . Ini juga alasan kenapa nulis tentang Mang Endang, karena mazhab Endangisme terlalu besar pengaruhnya dalam perjalanan karirku hahahaha *LoL 
Udah kebayang kan arah celotehannya mau kemana??? Kaya lagu ya “mau dibawa kemanaaaa celotehannyaaa…..” *LoL 
Terus terang, meski hanya bercengkrama sesaat (paling lama 1-2 minggu) dengan Mang Endang, tetapi apa yang “didoktrinkannya” padaku sedikit banyak mempengaruhi hidupku lebih tepatnya adalah pada hobiku. Ya….apa yang menjadi hobiku sekarang, merupakan pengaruh dari Endangisme tadi. Tapi hanya sebagian lhoo ya….tepatnya untuk dua hal yang akan terurai di bawah ini. Lanjutt terus ya bacanya, boleh sambil bawa makanan ringan kok, kacang garing, goreng pisang, goreng awug, goreng baso, yang ga boleh itu bawa kompor sama penggorengannya ntar disangka mau jualan hahaha *LoL 
Ok…ini 2 hobi yang terkena mazhab Endangisme :
1. Sepakbola  
Bagi sebagian besar lelaki, sepakbola adalah hobi yang paling utama. Termasuk aku dan mang endang. Sejak kecil (ya seumuran SD-lah), sewaktu aku dan keluargaku mudik ke kampung halaman, sepak bola adalah bagian dari kegiatanku dengan mang endang yang pasti selalu dilakukan. Waktu itu biasanya ditemani sama A Didi dan A Dali. Konsepnya dua lawan dua, Aku dengan A Didi melawan Mang Endang dengan A Dali. Yang menarik adalah, saat itu, kita bertandingnya di dalam rumah, di ruang tamu (indoor, dan ternyata, kini muncul Sepakbola indoor dalam bentuk Futsal, berarti kita Visioner hahaha *LoL ) dengan pintu kamar sebagai gawang 1, dan pintu rumah sebagai gawang 2. Paling menarik tentu saja adalah bola yang digunakan. Karena dilakukan di dalam ruangan, maka bola nya pun bukan bola sepak sebagaimana umumnya, melainkan bola pingpong. Ya….bola yang sering digunakan untuk tenis meja tersebut, berubah peran menjadi bola sepak. Dimana menariknya bola pingpong jadi bola sepak?  
Menariknya itu saat bola pingpong berada di antara kaki-kaki kami yang bertubrukan, maka akan penyok dan musti direbus atau direndam di air panas dulu biar kembali bundar. Tidak hanya itu, ekspresi saat mencetak gol ke Pintu (baca : Gawang – red) lawan, dibuat semenarik mungkin, semirip mungkin dengan ekspresi di lapang luas. Terkadang, biar lebih menantang, permainan dibuat serius dengan sistem 5 gol, siapa yang menang maka dia berhak digendong oleh yang kalah. It’s wonderful moment. Bagiku waktu itu, sangat mengasyikkan tentu saja. Mengisi liburan di kampung halaman, dengan bermain bola di dalam rumah. Dari situ, aku dikenalkan tentang bermain bola dan semakin berhasrat untuk terus bermain bola.
Dan mazhab endangisme yang paling besar pengaruhnya bagiku adalah, hobi menempel gambar bola di dinding kamar. Waktu itu, jika masuk ke dalam kamar Mang Endang, maka kita akan disuguhi oleh beragam tempelan gambar baik itu foto pemain, stadion, dari guntingan kertas atau memang berupa stiker dan poster yang bertebaran di dinding kamar bahkan di balik pintu. Jika saja sepre kasur dan sarung bantal bisa ditempeli, maka niscaya poster dan stiker pun akan ada di sana. Pokoknya kamarnya penuuuuuuuhhhh sama tempelan bola. Dan sebagaimana diungkap di awal, bahwa MU adalah klub favoritnya, maka bisa dipastikan sebagian besar yang tertempel adalah tentang MU. Bagi yang punya imajinasi tinggi, saat masuk kamar mang endang mungkin akan terasa berada di dalam Theater of Dream sedang menyaksikan langsung pertandingan sepakbola. Minimalnya, akan terasa berada di sebuah museum bola. Pokonya benar-benar maniaaakk lah sama bola. Dan ternyata, itu menular padaku. Hobi mang endang di copypaste di kamarku. Seingatku, sewaktu pulang dari kampung halaman, di dalam bus, aku membeli majalah bola (karena tempelan mang endang juga berasal dari Koran dan majalah bola), secara kebetulan di dalamnya membahas tentang kesuksesan MU meraih Treeble Winners di tahun 1999. Di doktrin oleh Mang Endang yang fans MU, beli majalah yang membahas tentang MU, ya jadinya seperti Pucuk di ulam cintapun tiba. Salah ya??? Ok berarti masih konsentrasi bacanya :p 
Dari situlah kemudian, aku jadi gemar membeli majalah tentang bola, menempel bonus posternya di dinding kamar + di balik pintu, serta terdaftar secara tidak resmi sebagai fans ringan Manchester United. Waktu itu sangat terpesona oleh lengkungan freekick david beckham, hingga kemudian membuat kliping tentang beckham yang sampai saat ini belum ada penerbit yang mau menerbitkan ahahaa. Tapi, dari hobi membeli majalah bola inilah aku menemukan ketertarikan pada dunia tulis menulis. Nanti aku ceritakan tentang hal ini, yang pasti sekarang adalah, mazhab endangisme dalam sepakbola, begitu berpengaruh dalam hobiku. 
2. Standup Comedy  
Ini yang mungkin terbilang baru, kurang lebih setahun yang lalu, tepatnya di acara SUCI 3 di hari sabtu. Kenapa sabtu? Ya biar rima nya U semua huhuhu *LoL 
Sebenarnya, (tidak begitu) jauh sebelum “dijerumuskan” di ranah standup comedy oleh Mang Endang, aku sudah mengenal lebih dulu genre seperti ini. Mungkin lebih tepatnya sudah pernah nonton tapi tidak tau menau seperti apa kedalamannya. Waktu itu sedang berselancar di dunia maya, yutub, mencari video-video yang menarik, ada klip tentang Standup Metro tv. Di klik lah, dan kemudian merasa tertarik akan konten dari video yang ternyata sebuah lawakan. Tertarik karena bagiku termasuk baru melihat ada komedi yang dibawakan oleh hanya satu orang. Waktu itu yang jadi comic nya adalah Soleh Solihun dengan materi MLM nya. Gaya bicara dari Soleh sangat khas, dan dia sering bilang bahwa StandUp itu lawakan cerdas. Sebagai orang cerdas, ya aku merasa perlu menonton standup itu hahaha….Comic kedua yang aku tonton adalah Cak Lontong dengan salam lempengnya. Lebih khas lagi saat telunjuknya mengarah ke dahi sambil bilang “Mikir” plus wajah datarnya.Sempat berfikir Jangan-jangan, inilah sosok “hantu Muka Datar” di cerita Wiro Sableng karya Bastian Tito hahaha *LoL .Dari situ sebenarnya sudah mulai tertarik pada yang namanya Standup Comedy, tapi belum tau ada acara khusus yang menayangkan tentang kompetisi standup. Oiaaa satu lagi, nama Raditya Dika, belum ada dalam list orang-orang yang aku kagumi :D 
Hingga kemudian, suatu waktu saat libur panjang karena ada cuti bersama, Mang Endang melancong ke rumahku. Tujuan utamanya sih berlibur ke pantai-pantai yang ada di wilayahku (seperti Sawarna, Pasput, Bagedur), tapi ternyata dibalik itu semua ada hidden agenda alias agenda terselubung yang dibawa Mang endang untuk “menjerumuskan”ku di Standup Comedy *LoL. Di rumahku ada koneksi internet, dan untuk mengisi waktu Mang Endang bermain internet. Ternyata buka yutub, ada peninggalan klip-klip standup comedy. Alhasil mulailah “mendoktrin” diriku :D. “Mamang mah resep ka si Muslim tah Den, pecaaahh waee” doktrinnya. Dan percakapanpun berlanjut tentang Suci session 1 dan 2, serta informasi tentang session 3. Dari situlah kemudian, sepeninggal Mang Endang (maksudnya setelah mang endang kembali ke tanah rantau) , aku semakin sering berselancar mencari-cari klip standup comedy. Hingga kemudian, rasa tertarikku kembali bertambah akibat mazhab Endangisme. Segala sesuatu yang berbau standup rasanya menjadi perlu untuk ditonton. Puncaknya adalah, merasa bahwa diri ini juga bisa untuk menjadi Comic hahaha….mau coba?? Nih saya kasih penggalan bit “Ga enaknya jadi Guru

 ……tapi jadi guru juga ada ga enaknya. Nih gue kasih tau ya, pertama kita ga bisa bergerak bebas seperti belum menjadi guru, ga bisa kita keluar rumah Cuma pake celana pendek sama kaos oblong doank apalagi main ujan-ujanan pake nyanyi-nyanyi pula kaya film india, nantinya muncul celaan “masa guru kaya gitu….”. Yang paling parah ga bisa nonton hiburan malam. Waktu itukan ada tetangga yang hajatan, nanggep dangdut, kita kan sama pengen nonton ya, akhirnya keluarlah dengan wewangian yang menempel di baju, nonton sekalian cuci mata lah, siapa tau ada abegeh…nyampe di kerumunan kan ga hanya fokus ke panggung, tapi juga larak lirik ke samping, siapa tau ada yang bisa di pedekate in. Akhirnya nemulah, sosok cewek, tingginya hampir sama, dengan rambut yang terurai. Dideketin lah, batuk-batuk ngasih kode, ga ngerespon juga, ya akhirnya gue colek dan gue bilang “sendirian aja nih…..” sambil pasang tampang paling ganteng plus genit. Dan lo tau ga, begitu si cewek itu noleh, doi tersentak kaget….serius kaget gitu, mungkin dalam hatinya berkata “Y Tuhan, ganteng amat laki di hadapan gue….”….ternyata abis kaget doi langsung senyum…gue juga senyum dong….akhirnya gue direspon…dan lo tau apa yang terjadi berikutnya?? Doi nyodorin tangan mau salaman, kirain gue mau kenalan, ternyata doi malah bilang “Ehhh….bapaa…..nonton juga pak?” …..Ssffffhtttt…..ternyata itu Si Cindy murid gue, biasa di sekolah pake kerudung, eh di luar ga pake kerudung ya kena deh gue……

Kedua, ga enak jadi guru itu, sering dinilai murid dari tampang yang disesuaikan sama mata pelajaran yang diampunya. Misalkan guru matematika yang tampangnya sering dianggap sangar atau killer, karena wajahnya rumit kayak rumus, Guru kimia wajahnya bikin pusing mirip larutan alcohol, beda sama guru agama yang wajahnya selalu keliatan bersinar. Masalahnya, gue itu guru sejarah….enak sih kalo dibilang mirip Soekarno atau Jend. Soedirman…tapi g enaknya itu kalo disambungin sama masa purba….lhaa…gue dinosaurus donk, emang ada dinosaurus kurus kecil gini? atau gue manusia purba, phitecanthropus erctrus dong… 

Ga Lucu ya??? Hahahha…nih terakhir bit ttg Karakter Murid yang Ngeselin

Jadi Guru itu harus bisa tau tentang karakter murid…dan karakter murid bisa diketahui ketika dilakukan ujian……… kalo pas ujian, kita (guru) kan sering bikin soal dan diakhirnya sering diberi closing statement yang intinya motivasi buat siswa, semisal Selamat Mengerjakan atau Selamat Bekerja. Nah, lo bisa tau Murid yang Ngeselin itu dari lembar Jawabannya, sebab di lembar jawabannya dia juga nulis SELAMAT MEMERIKSA BAPAAK…PERIKSALAH DENGAN BENAR DAN TEPAT, JIKA ADA KESALAHAN ANGKAT TANGAN LALU PERBAIKI SENDIRI, JANGAN LUPA KASIH NILAI YANG BAGUS YA PAK….DARI MURIDMU MMMUUUAACHHH.......Cindy 

Ok terima kasih gue Den Fatur…selamat malam *LoL

Minggu, Januari 19, 2014

Seribu Ide ke Seribu Karya

Guru Seribu Ide......

Ya....sebutan itu melekat erat dalam benak, sebab bisa jadi, sebutan itu merupakan alat yang ditentukan oleh Tuhan sebagai pendekat diantara kami, aku dan dirinya. Seingatku, dirinya yang sering menyebutku begitu, meskipun jika dihitung tentu saja ide-ide yang aku utarakan padanya tidak sebanyak itu. Dari sebutan itu juga interaksi diantara kami smakin sering. Hingga pada akhirnya, dirinya kini telah resmi mendampingiku. Tapi, kali ini tidak hendak membahas dirinya, melainkan tentang Seribu Ide.

Yupps.....bangga juga saat mendapat sebutan sebagai si Guru Seribu Ide. Aku sendiri menyadari bahwa sebutan ini tentu ada dasarnya. Dan jika diingat lagi, sebutan ini berawal dari cerpen. Ya...melalui cerpen sebutan itu melekat padaku. Meski sebenarnya, aku sendiri tak pernah membuat cerpen yang beragam. Hanya saja pada saat itu intensitas untuk menulis cerpen sedang tinggi-tingginya, sehingga hampir bisa dipastikan satu minggu satu cerpen muncul dalam note FB ku. Untuk kami saat itu, satu minggu satu cerpen itu sudah merupakan pencapaian yang luar biasa, jadi wajar kalau sebutan itu tersemat padaku.Heehe....

Hingga berjalannya waktu, tepatnya beberapa hari sebelum tulisan ini dimuat, aku mulai merasakan ada yang kurang. Dalam hal ini dengan sebutan Guru Seribu ide tersebut. Satu hal yang mendesakku untuk "mereview" kembali sebutan itu karena kini seolah aku tak layak lagi menyandangnya. Tak ada lagi cerpen-cerpen yang berhasil diselesaikan. Lantas, apakah ide-ide yang dulu "seribu" jumlahnya sekarang telah hilang terbuang?
Tidak!! aku tegaskan tidak.
Ide-ide itu masih terus berkeliaran di pikiranku.
Hasrat untuk menulis masih membara di benakku...
Tapi.....jemari ini selalu kaku ketika berhadapan dengan tuts tuts keyboard. Masalah klasik yang biasa dialami oleh penulis pemula, seperti aku tentu saja.

Dari kemandegan itu, justru kemudian aku berfikir ada yang kurang dari sebutan Seribu Ide. Harus ditambah. Bukan menjadi Seribu Ide Mandeg atau Seribu Ide Macet, tapi ada kelanjutan positif dari Ide-ide yang dimiliki oleh setiap orang. dan aku menyebutnya Seribu Karya.

Pada dasarnya, menurutku, ide merupakan apa yang ada dipikiran dan apa yang dipikirkan seseorang tentang apapun yang sedang seseorang itu rasakan. Jadi misalkan seperti ini, kita sedang jalan-jalan ke sebuah kolam renang, dan pasti saat melihat kolam renang ada sesuatu dalam pikiran dan ada juga yang dipikirkan baik itu tentang keadaan kolam tersebut, atau tentang bagaimana seharusnya kolam tersebut, bisa juga tentang baiknya ada apa di kolam tersebut. Nah, apa-apa yang barusan dituliskan, bagiku itu merupakan sebuah ide yang dimiliki oleh kita. Pun demikian dalam keadaan-keadaan apapun.

Artinya, bagiku, ide itu dimiliki oleh setiap orang, siapapun itu, tanpa memandang apapun posisi atau jabatannya. Tukang beca, ojeg, pengusaha, guru, penjahat, hakim jaksa, pedagang, semuanya memiliki ide. Hanya satu yang pasti, bahwa ide hanya dimiliki oleh orang yang masih punya pikiran. jadi, bagiku orang gila tidak akan memiliki ide, sebab pikirannya sendiri sudah konslet. Heheh....
Alhasil, aku mulai berfikir bahwa sebutan Guru Seribu Ide itu merupakan hal yang biasa!! Sebab setiap manusia yang berfikir pasti memiliki ide. Setidaknya ide itu akan dipakai dalam kehidupan sehari-hari untuk dirinya sendiri.

Yang menjadi pembeda dari tiap orang yang mimiliki ide tersebut adalah seberapa jauh/besar/bisa orang tersebut memanfaatkan kemampuan yang dimilikinya untuk mewujudkan atau merealisasikan ide-ide yang dimilikinya tersebut.  Sehingga, ide yang dimilikinya bisa menjadi sebuah atau berbuah-buah Karya.Untuk sementara, bagiku, kesampingkan dulu pendapat orang tentang hasil karya kita, baik atau buruknya, yang penting berkarya dulu. Masih sama dengan filosofi menulisku, berkarya lah apa adanya, lalu belajarlah untuk berkarya ada apanya. Hehehe....

Jadi, kalo cuma punya ide doang mah hal biasa, tapi bisa mewujudkannya menjadi sebuah karya (apalagi Mahakarya) itu baru luar biasa.

so, mari berkarya!!!







Sabtu, Januari 11, 2014

Tahun Baru 2014

Yeaaaahhh.....dan 2013 pun berlalu, berganti dengan tahun anyar 2014. PEsta kembang api, paduan suara terompet dengan derung motor, plus gemericik hujan, menandai pergantian taunnya. Ahhh klasik, dari taun ke taun pasti seperti itu, tak ada perbedaan. Ga bosen emangnya? tapi terserah, setiap orang punya kebahagiaan masing-masing, dan setiap event selalu ada tradisinya tersendiri. Dan aku melalui pergantian tahun dengan hal yang sama juga seperti dulu, tiduran di depan tipi untuk kemudian beralih ke tempat tidur. Uppss ada yang beda, kalo dulu masih sendirian, sekarang Alhamdulillah udah ada pasangan (istri). Tentu kebahagiaan yang tiada bandingannya, menikmati malam pergantian taun dengan istri tercinta.

BIasanya, tiap pergantian taun juga sering ditandai dengan adanya harapan-harapan untuk taun yang akan datang. Bahasa kerennya "resolusi". Penting juga untuk menengok kembali pencapaian apa yang telah diraih di tahun sebelumnya, hingga kemudian menetapkan pencpaian di taun depan. Hal Yang penting laiinya yang perlu disadari juga adalah, target-target yang telah dicanangkan harus menjadi motivasi untuk meraihnya, bukan sekedar ngikutin tren. Yang pada akhirnya tercapai atau tidaknya target tersebut bukan menjadi persoalan.





Sabtu, Juni 29, 2013

nulis lagi

Whoaaaaaaa.........lama banget ga ngepost di ini blog......antara keinginan bahwa blog ini husus edukasi dan blog bebas, jadinya ga di isi isi hehehe.....

anyway, skrg lagi pengen banget standup comedy....pengen nyoba biar tau bisa ga sih gua standup comedy....tapi bingung nulis materinya gimana hehehe....

Senin, Desember 31, 2012

Saya dan Habibie


Dulu, saat orang ditanya tentang apa yang terpikirkan ketika mendengar nama Pak Habibi, maka mayoritas pasti menjawab pesawat terbang, mantan Presiden RI, mantan Menristek, atau  kecil tapi cerdas, atau juga Bapak Teknologi Indonesia. Bagi mereka yang tidak suka terhadap masa kepemimpinan beliau mungkin akan menjawab penyebab lepasnya Timor Leste (dulu Timor Timur).
Andaikata pertanyaan itu diberikan pada saya, jawaban yang sama akan terucap dari mulut saya. Pertama kali mengenal (mendengar namanya) pak Habibi itu saat SD, saat beliau menjabat sebagai Menristek. Waktu itu sangat terkenal sekali dengan proyek Pesawat Gatotkaca N250. Betapa bangganya Indonesia saat itu karena mampu menciptakan pesawat terbang sendiri. Habibi sendiri kemudian menyebutnya sebagai hasil karya anak bangsa, putra – putri indonesia. Saya juga bangga tentu saja. Meski pada saat itu (kurang lebih usia 8 tahun) yang saya tau mereka bangga karena mampu membuat benda yang bisa terbang, yang apabila melintas di atas rumah, dengan penuh kebanggaan saya berteriak sekuat tenaga “Kapaaaaallll menta duittttttt!!!”. Setidaknya itu makna kebanggan bagi saya saat itu.


Perkenalan dengan Habibi tidak berhenti sampai disitu, melainkan terus berlanjut hingga saya duduk di bangku SMP. Dua tahun di SMP, nama beliau masih “mejeng” di jajaran Menteri. Baru kemudian menjelang akhir tahun ajaran di kelas 3 beliau “naek jabatan” jadi Presiden. Carut marutnya kondisi Indonesia saat itu masih belum dipahami oleh saya. Tak mengerti tentang inflasi, tak mengerti tujuan mahasiswa melakukan demonstrasi, tak mengalami pula konflik yang berujung pada kekerasan. Hanya satu yang ngetrend saat itu yang dapat dimengerti oleh saya, yaitu kata “KrisMon”. Saya tau bahwa di Indonesia saat itu memang sedang trend nya KrisMon. Adapun yang saya tau, KrisMon disini berarti “Krisdayanti Mon***”. Entah dengan inflasi harga, kurs rupiah yang melemah atau konflik yang lain, sebab disatu sisi adanya KrisMon justru malah membahagiakan bagi saya, Uang Saku jadi naik!!!


Barulah setelah masuk SMA, nama Habibie makin sering didengar, terutama dikaitkan dengan berdirinya sebuah negara baru di Tenggara Indonesia yaitu Timor Leste.  Beragam sebutan pun “disematkan” pada sosok beliau. Antek orde baru lah, pendukung disintegrasi lah, dan sebutan-sebutan lain yang bernada sinis. Masa pemerintahannya dianggap gagal, karena tak mampu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Kabinet Reformasi yang dibentuk, masih dianggap “berbau” orde baru, yang pada saat itu Orde Baru seolah racun yang musti segera dimusnahkan hingga ke akar-akarnya. Namun satu hal yang tetap tersimpan dalam benak saya, bahwa bagaimanapun juga Habibie adalah sosok yang spesial .


Saat duduk di bangku kuliah, interaksi dengan sosok Habibie lebih intensif dibanding saat SMA. Maklum, satu mata kuliah full membahas Periode Orde Baru dan Reformasi, yang di dalamnya terdapat peran serta beliau. Diskusi-diskusi ringan juga sering dilakukan, meski terkadang lebih sering “Debat Kusir” daripada diskusi serius. Pemahaman lebih mendalam juga dirasakan ketika membahas tentang Berhasil atau Tidaknya masa kepemimpinan beliau. Berbagai sudut pandang yang digunakan sebagai acuan dalam memberikan argumen, menambah pemahaman bahwa sebuah peristiwa itu tak bisa hanya dilihat dari satu aspek saja.  Satu hal yang harus dipahami adalah pemerintahan Habibie adalah pemerintahan peralihan dari Orde Baru menuju Reformasi. Bukan perkara yang mudah untuk mewujudkan agenda reformasi yang diusung oleh mahasiswa, hanya dalam periode peralihan sebagaimana yang dialami oleh Habibie.


Lepas masa pemerintahannya, nama Habibie tak tenggelam ditelan zaman. Terus menerus menjadi pembahasan di kalangan akademisi. Hingga kemudian, persepsi orang tentang Habibie menjadi bertambah seiring dengan “terpisahnya” Habibie dengan wanita pujaan hatinya, Hasri Ainun Habibie (Ainun). Minggu terakhir di bulan Mei tahun 2010, mantan Ibu Negara tahun 1998-1999 ini, berpulang ke rahmatullah. Indonesia dirundung duka!!! saya sendiri turut merinding mengiringi kepergian istri tercinta dari pak Habibie ini, meski hanya mengikuti dari layar kaca.


Meninggalnya bu Ainun, ternyata membuka mata saya (dan mungkin juga yang lainnya), tentang sosok lain dari Habibie, terutama dalam hal ini adalah mengenai kehidupan rumah tangga mereka (Habibie dan Ainun-H&A). Beberapa hari setelah bu Ainun pergi, menyebar di media elektronik tentang Surat Cinta Habibie untuk bu Ainun. Mengharukan!!! setidaknya itu yang saya rasakan saat membacanya. Betapa indahnya alur yang dilalui oleh H & A, betapa besarnya rasa cinta diantara mereka, betapa berartinya hidup mereka untuk satu sama lainnya. Beragam kenangan yang telah dilalui oleh H & A, rasanya teramat sayang untuk dilupakan begitu saja. 48 tahun mahligai rumah tangga yang telah dijalani bersama, telah begitu erat mengikat mereka. Hingga saat satu pergi, otomatis yang tertinggal akan merasa sangat kehilangan. Begitu juga yang dirasakan oleh Habibie.


Rasa kehilangan yang teramat dalam sungguh tak bisa diabaikan begitu saja oleh Habibie. Di tengah kondisi fisiknya yang juga mulai melemah, kini psikis nya juga harus merasakan hal yang sama. Bu Ainun adalah segalanya bagi Pak Habibie, saat Ia (Ainun) pergi, apakah segalanya masih berarti bagi pak Habibie?. Mungkin kalau kata anak zaman sekarang, saat itu pak Habibie sedang didera oleh Galau tingkat akut, entah sudah stadium keberapa. Andai saja tak memiliki pondasi keimanan yang kuat, mungkin jalan pintas yang buruk akan ditempuh olehnya.


Rasa sayang yang begitu besar pada bu Ainun, memberi inspirasi pada Pak Habibie untuk mencurahkan masa-masa indah saat bersamanya dalam sebuah tulisan. Enam bulan kemudian (November 2010), Hasri Ainun Habibie, kembali “hidup” dalam bentuk cerita. Adalah pak Habibie sendiri yang menulis tentang kisah hidupnya bersama bu Ainun, sejak pertemuan pertama, hingga kebersamaan terakhir. Ternyata, kisah hidup tersebut sangat disukai oleh masyarakat, hingga dipenghujung tahun 2012, kisah tersebut diangkat ke layar lebar. Meski belum ada pernyataan resmi, bolehlah saya menyatakan lebih dulu bahwa film Habibie & Ainun, merupakan film yang sukses.


Adalah kebahagiaan bagi saya yang dipenghujung tahun 2012 bisa kembali berinteraksi dengan Pak Habibie melalui buku dan film nya tersebut. Semakin bahagia, sebab menikmati kedua bagian tersebut bersama sosok yang diharapkan menjadi “Ainun” dalam kehidupan saya. Semoga......


Oia, persepsi saya tentang sosok Habibie pun bertambah. Tidak hanya memandang dari sudut pandang politis, bukan hanya mengenal habibie sebagai presiden RI yang ke 3, tapi dari sudut pandang sosial, sebagai Adam yang membutuhkan Hawa, sebagai suami dari seorang istri, sebagai ayah dari dua orang anak. Andai pertanyaan di awal kembali dimunculkan, maka jawaban saya akan semakin simple.


Habibie itu Idealis Romantis





@My room, Penghujung tahun 2012 , 23.00

Minggu, Januari 15, 2012

Wisata Sejarah di Banten Lama


Oleh

Abu Fathia

Sore itu aku baru saja beres mengikuti perkuliahan. Cuaca yang teduh tapi tetap terasa panas. Ya…Kota Serang memang selalu berhawa panas. Bahkan saat malam hari pun, aku harus menghidupkan kipas angin agar tidak kegerahan. Itupula yang sedang kulakukan sekarang. Pakaian batik masih menempel di tubuhku, hanya beberapa kancing bagian atasnya yang terbuka. Aku tergeletak pasrah ditiup oleh semilir angin yang dihembuskan putaran kipas di depanku.

Sebenarnya mata ini berusaha terpejam, ingin istirahat. Tapi tak jua masuk ke alam mimpi.

“Wiih….dah pulang boy? Beres tah kuliahnya?” tanya Isal yang baru saja selesai mandi.

“Hmmm…..” jawabku.

“Jangan tidur wae atuh boyy….mending jalan – jalan ihhh….” Isal coba menggodaku.

Mataku terbuka. Menarik juga apa yang dikatakan oleh Isal. Sekian lama aku kuliah di Ibukota Provinsi Banten ini, belum sekalipun aku menikmati jejees. Maklum, jadwal kuliahku biasanya sampai setengah enam, hingga tak ada waktu untuk menikmati itu. Kini, dosennya berhalangan untuk hadir, hanya titipan tugas yang membuat kepulangan kami agak terhambat. Tapi itu juga berarti bahwa aku bisa pulang lebih awal, dan bisa menikmati kota Serang di sore hari.

“Kemana???” tanyaku yang mulai terpancing.

“Banten lama yuuu…….katanya kamu pengen ke sana…kan belum pernah terwujud tuh….” Saran Isal. Aku terperanjat kemudian tersenyum.

“Siippp….wokehlah kalo begitu. Ayo kita meluncur ke sana…..” kataku sembari beranjak menuju kamar mandi. Cuci muka, ganti pakaian dan berangkatlah menuju ke Banten Lama, melihat – lihat patilasan Kerajaan Banten.

***

Revi kuning meluncur dengan perlahan menyusuri lekak lekuk kota Serang. Arus lalu lintas lumayan ramai. Hilir mudik kendaraan cukup padat, dari mulai kendaraan besar roda enam (truk), roda empat, roda dua, hingga roda dua klasik (sepeda). Kami harus hati – hati. Juga pada penyeberang jalan yang kadang se-enaknya saja melintasi jalan yang kami lalui.

Oia, lupa. Kostan kami berada di daerah Secang, Pasar Rau. Untuk menuju ke Banten Lama kami mengambil jalur melewati kompleks pasar Rau, Pasar lama, Kasemen dan tibalah di kawasan Banten Lama.

Kurang lebih 20 menit waktu yang diperlukan dari Kostan kami untuk mencapai daerah Banten Lama ini. Sepanjang jalan, Isal bercerita tentang beberapa daerah yang kami lewati, termasuk daerah yang telah aku sebutkan diatas. Hingga tak terasa, sampailah kami di daerah Banten Lama. Sebuah plang bertuliskan ucapan selamat datang di daerah wisata Banten lama menyambut kedatangan kami.

“Nah ini reruntuhan bekas Keraton Surosowan” kata Isal sembari menolehkan wajahnya ke sebelah kiri. Sebuah pagar dinding yang cukup panjang berdiri kokoh mengelilingi satu bagian yang Isal menyebutnya sebagai Keraton Surosowan.

“Ohh…..” kataku sambil mengangguk – ngangguk.

“Mau ke sini dulu??” tanya Isal.

“Kalo Mesjid Agung Banten dimana?” aku balik bertanya.

“Masjid ke sebelah sana lagi” jawab Isal sambil mengarahkan telunjuknya ke tempat yang dimaksud.

“Ke Masjid saja dulu, nanti baru ke sini” kataku. Isal mengangguk. Dan My Yellow Revi pun meluncur ke arah Mesjid Agung. Perlahan tapi pasti, menara Mesjid mulai terlihat. Aku berdecak kagum

Bangunan Mesjid Agung Banten

Sumber foto : Doc. Pribadi

“Subhanallah….akhirnya aku ke sini juga” kataku dalam hati. Sudah sejak lama aku ingin berkunjung ke Masjid Agung Banten. Bagiku, Masjid Agung Banten adalah paduan antara Keagungan Rumah Tuhan dengan Kejayaan Kerajaan Banten. Masjid juga simbol penghambaan manusia kepada Tuhannya. Orang Banten kan terkenal kuat agamanya, dan masjid ini bisa jadi merupakan salah satu buktinya. Kemegahan yang dimiliki oleh Masjid Agung Banten juga menegaskan kebesaran dari Kerajaan Banten.

Setelah memarkirkan kendaraan, aku dan Isal berjalan menuju Masjid Agung Banten.

“Nah, inilah Masjid Agung Banten boyy….” Kata Isal. Aku tersenyum.

“Masjid ini benar – benar megah dan luas” kataku dalam hati.

“Mesjid ini terdiri dari beberapa bagian” kata Isal lagi.

“Apa saja?” tanyaku.

“Ada makamnya, ada tempat senjata kuno, dan itu tentu saja ada menaranya hehehe” kata Isal.

“Owhh….” Kataku. Aku dan Isal kemudian berjalan masuk ke area masjid Agung. Kami masuk melalui pintu kecil di sebelah selatan, yang juga menjadi pintu penghubung dengan kawasan pasar. Tepat di hadapan kami saat masuk adalah seperi sebuah kolam yang saat itu sedang asyik dinikmati oleh beberapa anak kecil. Menurut buku yang pernah aku baca, dulunya kolam itu berfungsi sebagai tempat bersuci, tapi melihat kondisi sekarang, sepertinya tidak mungkin masih berfungsi sama. Tepat di depan kolam itu, di bagian timur Masjid Agung, berdiri kokoh sebuah bangunan menjulang tinggi berwarna putih.

Menara Mesjid Agung Aku di Pintu Menara

Sumber foto : Doc. Pribadi

“Itu Menara Mesjid” Kata Isal sembari menunjuk pada bangunan yang dimaksud. Aku mengangguk. Isal menarik lenganku menuju ke tempat tersebut. Dari buku yang aku baca, tinggi menara ini kurang lebih 23 meter dari permukaan tanah. Bagian dasar menara berdenah segi delapan, dan itu berlaku juga bagi tubuhnya. Di sisi utara tubuh menara tersebut, terdapat pintu masuk.

“Yaahhh…..dikunci….” keluh Isal. “Biasanya ada yang jaga di sini, paling kita ngasih seribu juga dibolehin naik ke atas menara ini” lanjutnya.

Aku menengadah ke atas. Memoriku kembali mengingat apa yang telah kubaca mengenai menara ini. Kepala menara…..ya…itu sebutan untuk bagian paling atas dari menara ini. Terdiri dari dua tingkat yaitu tingkat pertama berbentuk kubah yang terpenggal dan tingkat kedua adalah kubah yang lebih kecil. Bagian paling atas dari kepala menara ini adalah puncak menara yang terdapat memolo atau mustoko berwarna merah hati yang dibuat dari tanah liat menyerupai bunga yang sedang mekar.

“Kalo kita bisa naik, maka kita bisa menikmati keindahan provinsi Banten dari atas menara itu” kata Isal. Aku mengangguk saja.

“Kalo makam dimana??” tanyaku.

“ Oh…itu dibagian dalam, mau sekalian ziarah??” isal balik bertanya. Aku menggeleng.

“Lihat aja yu…” ajakku. Isal mengangguk. Dan kami pun berjalan menuju tempat yang dimaksud. Pemakaman (tempat makam) tersebut berada di bagian Selatan Masjid Agung, bersebelahan dengan museum mini tempat menyimpan alat – alat kuno. Ada juga beberapa senjata kuno yang tersimpan di sana. Pintu masuk pun berada di museum tersebut.

Bangunan Museum_Pintu Masuk menuju Makam

Sumber foto : Doc. Pribadi

Aku dan Isal melangkahkan kaki menuju tempat makam, dan ternyata sedang ada sekelompok orang yang berziarah. Seorang penjaga menghampiri kami kemudian bertanya “Mau ziarah?”. Dan kami serempak menggeleng sambil tersenyum. Aku tidak terlalu tertarik pada acara ziarah, justru lebih tertarik untuk melihat – lihat isi dari museum ini. Ada museum di kompleks Masjid, isinya apa saja ya kira – kira?? Pertanyaan itu yang muncul dibenakku. Sayang…tak ada jawaban, sebab juru kunci museum itu sedang tidak ada, sehingga kami tidak bisa masuk untuk melihat lebih jelas isi dari museum tersebut.

Oia…di sekitar masjid nampak tersedia tempat – tempat para pedagang. Bahkan hampir menyerupai komplek pasar. Waktu aku berkunjung ke sana tidak banyak pedagang yang berjualan, maklum bukan waktunya orang – orang berkunjung ke Masjid Agung. Hanya beberapa pedagang saja yang tetap membuka lapak dagangannya. Beragam barang yang mereka jual, ada makanan, pakaian, alat beribadah, dan ada juga yang menyediakan penukaran uang recehan. Sebab katanya, kalo sedang waktu kunjungan, banyak para pengemis yang berkeliaran di sekitar Masjid.

Aneka Barang Yang Diperdagangkan

Sumber foto : Doc. Pribadi

Waktu beranjak begitu cepat. Matahari semakin rendah di ufuk barat. Aku melirik pergelangan tangan. Masih ada waktu kurang lebih satu jam menuju Magrib. Sementara itu, masih ada dua tempat yang hendak dikunjungi. Akhirnya, Masjid Agung Banten kami tinggalkan, untuk menuju ke tempat berikutnya yaitu Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama.

Jarak antara Masjid Agung Banten dengan Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama (selanjutnya akan disebut Museum SKBL), tidak begitu jauh. Hanya keluar dari kompleks Masjid Agung, kemudian berbelok sedikit tibalah di Museum SKBL.

Sayangnya, waktu sudah terlalu sore, sehingga Museum sudah tutup. Itu artinya aku tak bisa menikmati benda – benda peninggalan sejarah yang ada di dalam Museum Banten. Hanya ada beberapa benda yang di simpan di luar, diantaranya yaitu sebuah Meriam yang bernama Ki Amuk, batu berbentuk bulat yang digunakan untuk menghaluskan lada, dan satu buah batu berbentuk kotak yang biasa digunakan sebagai alas untuk menempa senjata.

Meriam Ki Amuk Batu Penggiling Lada Batu Penempa

Sumber Foto : Doc. Pribadi

Keasyikanku di museum SKBL ini tidak berlangsung lama, sebab waktu semakin sore. Akhirnya aku dan Isal memutuskan untuk meninggalkan Museum dan beranjak pulang.

Di perjalanan pulang aku menyempatkan diri untuk masuk ke Reruntuhan Keraton Surosowan yang dulunya merupakan bangunan tempat tinggal raja dan keluarganya.

“Wahh…..luas banget ya….” kataku saat memasuki kawasan reruntuhan keraton.

“ Iya….hampir 3 hektar luasnya” kata Isal.

“Keraton ini dibangun sekitar abad ke 16, kemungkinan pada masa Sultan Maulana Hasanudin. Dinding itu berfungsi sebagai pelindung bangunan yang ada di dalamnya” kataku sambil menunjuk ke arah dinding yang melingkupi kawasan keraton.

“Semacam benteng ya…” tegas Isal. Aku mengangguk.

“Dinding itu dibuat dari bata dan batu karang yang direkatkan oleh campuran pasir, semen dan kapur. Sangat kuat……tuh, sekarang pun masih berdiri kokoh” kataku lagi.

“Yupss…sayang…keratonnya hanya tinggal puing reruntuhannya saja” kata Isal.

“Ya…Keraton ini terakhir kali dihancurkan oleh Daendels” kata ku. Saat berada di lingkungan keraton tersebut, imajinasiku bekerja, membayangkan betapa indahnya keraton Surosowan ini dahulu. Terbayang juga perjuangan para penghuninya dalam mempertahankan dari serangan penjajah.

Kini, Keraton tinggal menyisakan puing – puingnya saja. Sisa bangunan yang ada berupa pondasi, dan tembok – tembok dinding yang sudah hancur, sisa bangunan petirtaan dan bekas kolam taman dengan bangunan Bale Kambang. Ya….Orang – orangnya sudah mati, tapi puing bangunan ini yang bercerita tentang kehebatan mereka dahulu. Tentang kejayaan Banten tempo dulu.

Waktu berjalan tak mengenal berhenti. Matahari semakin merendah, sinarnya tak lagi seterang waktu siang. Senja mulai merekah. Malam mulai tiba. Perjalanan kami harus berakhir. Padahal, masih banyak peninggalan Kerajaan Banten lainnya yang belum kami kunjungi.

“Mungkin lain kali dan harus menyempatkan untuk wisata Sejarah!!!” begitu tekadku.

Betapa jujur pengakuan zaman

Ketika kenangan tinggal puing

Dan Sejarah hanya tinggal cerita

Tapi masih ada yang tersisa

Puing Reruntuhan kota dan artefak

Memberi kesaksian akan peradaban masa silam

Perjalanan panjang sejarah umat manusia

Memberi pelajaran untuk berfikir, bertindak dan berperilaku bijak

Historia Magistra Vitae

---Dan Wild (dengan sedikit gubahan)---

Senin, Desember 26, 2011

Naskah Drama : Berdirinya Kerajaan Majapahit

Prolog : ***

Raden Wijaya dan keempat istrinya sedang memantau proses pembukaan lahan oleh para prajuritnya

Istri 1 : “Maaf Baginda, sebenarnya apa maksud baginda menyuruh para prajurit untuk menebang pohon ini?”

Istri 2 :”Betul Baginda maksudnya apa? Bukankah ini termasuk pembalakan liar? Illegal loging gitu deh…”

R. Wijaya : “ Yeee….enak aja. Seperti yang telah kuceritakan sebelumnya pada kalian tentang mimpi aneh yang aku alami. Aku yakin disinilah tempatnya”

Raden Wijaya dan para istrinya berjalan mendekati 2 prajurit yang sedang bekerja.

Istri 3 : “Ooo….tempat yang kelak akan berdiri sebuah kerajaan besar yang akan menyatukan nusantara?”

R Wijaya : (sambil mengangguk) Benar

Istri 4 : “Jadi,,,,disinilah tempatnya. Lalu apa nama kerajaannya??”

R WIjaya : (Diam, sambil memegang dagu) “Emmm…..aku sendiri belum tau, mau dikasih nama apa kerajaan ini”

Di seberang rombongan Raden Wijaya, nampak terlihat dua orang Prajurit yang kelelahan saamelakukan pembukaan lahan.

Prajurit 1 : “Wah….laper nih, mana nggak ada yang dagang bubur lagi…” (samba menoleh kesana kemari)

Prajurit 2 : “Iya nih sama. Eh…tapi aku punya buah ini nih. Kayanya sih buah pohon yang kita tebang ini. cobain deh “

Prajurit 1 : (Memakan, tapi kemudian memuntahkannya sambil terbatuk – batuk)

Prajurit 2 : Kenapa?? (sambil memegang prajurit 1)

Rombongan R Wijaya berhenti di depan para Prajurit

R Wijaya : Hey kenapa kalian???

Prajurit 2 : (sambil membungkuk) Maaf baginda, tadi kami kelaparan lalu memutuskan untuk memakan buah phon ini. kami kira bisa menahan rasa lapar tapi ternyata rasanya pahit”

R Wijaya : mana buahnya?? Coba lihat” (mengulurkan tangan mengambil buah yang diserahkan oleh prajurit)

R Wijaya : (membolak balik sambil merenung) Buah maja rasanya pahit. Maja yang pahit….Majapahit (kemudian melompat kegirangan) Aahaaa…..aku dapat nama untuk kerajaan ini.

Para Istri : “Apa kanda namanya??”

R Wijaya : “MAJAPAHIT….ya….Kerajaan Majapahit….ha…ha…ha….. “(Tertawa sambil mengangkat tangan ke atas dan melangkah pergi meninggalkan ruangan)

Istri dan Para Prajurit : “Hidup Majapahit 3x” (sambil mengikuti raden Wijaya)