silahkan menyaksikan Video berikut ini
Minggu, April 19, 2020
Test Video
silahkan menyaksikan Video berikut ini
Jumat, Agustus 01, 2014
Pengaruh Endangisme Bagi Si Pemilik Akun \=D/
Minggu, Januari 19, 2014
Seribu Ide ke Seribu Karya
Ya....sebutan itu melekat erat dalam benak, sebab bisa jadi, sebutan itu merupakan alat yang ditentukan oleh Tuhan sebagai pendekat diantara kami, aku dan dirinya. Seingatku, dirinya yang sering menyebutku begitu, meskipun jika dihitung tentu saja ide-ide yang aku utarakan padanya tidak sebanyak itu. Dari sebutan itu juga interaksi diantara kami smakin sering. Hingga pada akhirnya, dirinya kini telah resmi mendampingiku. Tapi, kali ini tidak hendak membahas dirinya, melainkan tentang Seribu Ide.
Yupps.....bangga juga saat mendapat sebutan sebagai si Guru Seribu Ide. Aku sendiri menyadari bahwa sebutan ini tentu ada dasarnya. Dan jika diingat lagi, sebutan ini berawal dari cerpen. Ya...melalui cerpen sebutan itu melekat padaku. Meski sebenarnya, aku sendiri tak pernah membuat cerpen yang beragam. Hanya saja pada saat itu intensitas untuk menulis cerpen sedang tinggi-tingginya, sehingga hampir bisa dipastikan satu minggu satu cerpen muncul dalam note FB ku. Untuk kami saat itu, satu minggu satu cerpen itu sudah merupakan pencapaian yang luar biasa, jadi wajar kalau sebutan itu tersemat padaku.Heehe....
Hingga berjalannya waktu, tepatnya beberapa hari sebelum tulisan ini dimuat, aku mulai merasakan ada yang kurang. Dalam hal ini dengan sebutan Guru Seribu ide tersebut. Satu hal yang mendesakku untuk "mereview" kembali sebutan itu karena kini seolah aku tak layak lagi menyandangnya. Tak ada lagi cerpen-cerpen yang berhasil diselesaikan. Lantas, apakah ide-ide yang dulu "seribu" jumlahnya sekarang telah hilang terbuang?
Tidak!! aku tegaskan tidak.
Ide-ide itu masih terus berkeliaran di pikiranku.
Hasrat untuk menulis masih membara di benakku...
Tapi.....jemari ini selalu kaku ketika berhadapan dengan tuts tuts keyboard. Masalah klasik yang biasa dialami oleh penulis pemula, seperti aku tentu saja.
Dari kemandegan itu, justru kemudian aku berfikir ada yang kurang dari sebutan Seribu Ide. Harus ditambah. Bukan menjadi Seribu Ide Mandeg atau Seribu Ide Macet, tapi ada kelanjutan positif dari Ide-ide yang dimiliki oleh setiap orang. dan aku menyebutnya Seribu Karya.
Pada dasarnya, menurutku, ide merupakan apa yang ada dipikiran dan apa yang dipikirkan seseorang tentang apapun yang sedang seseorang itu rasakan. Jadi misalkan seperti ini, kita sedang jalan-jalan ke sebuah kolam renang, dan pasti saat melihat kolam renang ada sesuatu dalam pikiran dan ada juga yang dipikirkan baik itu tentang keadaan kolam tersebut, atau tentang bagaimana seharusnya kolam tersebut, bisa juga tentang baiknya ada apa di kolam tersebut. Nah, apa-apa yang barusan dituliskan, bagiku itu merupakan sebuah ide yang dimiliki oleh kita. Pun demikian dalam keadaan-keadaan apapun.
Artinya, bagiku, ide itu dimiliki oleh setiap orang, siapapun itu, tanpa memandang apapun posisi atau jabatannya. Tukang beca, ojeg, pengusaha, guru, penjahat, hakim jaksa, pedagang, semuanya memiliki ide. Hanya satu yang pasti, bahwa ide hanya dimiliki oleh orang yang masih punya pikiran. jadi, bagiku orang gila tidak akan memiliki ide, sebab pikirannya sendiri sudah konslet. Heheh....
Alhasil, aku mulai berfikir bahwa sebutan Guru Seribu Ide itu merupakan hal yang biasa!! Sebab setiap manusia yang berfikir pasti memiliki ide. Setidaknya ide itu akan dipakai dalam kehidupan sehari-hari untuk dirinya sendiri.
Yang menjadi pembeda dari tiap orang yang mimiliki ide tersebut adalah seberapa jauh/besar/bisa orang tersebut memanfaatkan kemampuan yang dimilikinya untuk mewujudkan atau merealisasikan ide-ide yang dimilikinya tersebut. Sehingga, ide yang dimilikinya bisa menjadi sebuah atau berbuah-buah Karya.Untuk sementara, bagiku, kesampingkan dulu pendapat orang tentang hasil karya kita, baik atau buruknya, yang penting berkarya dulu. Masih sama dengan filosofi menulisku, berkarya lah apa adanya, lalu belajarlah untuk berkarya ada apanya. Hehehe....
Jadi, kalo cuma punya ide doang mah hal biasa, tapi bisa mewujudkannya menjadi sebuah karya (apalagi Mahakarya) itu baru luar biasa.
so, mari berkarya!!!
Sabtu, Januari 11, 2014
Tahun Baru 2014
BIasanya, tiap pergantian taun juga sering ditandai dengan adanya harapan-harapan untuk taun yang akan datang. Bahasa kerennya "resolusi". Penting juga untuk menengok kembali pencapaian apa yang telah diraih di tahun sebelumnya, hingga kemudian menetapkan pencpaian di taun depan. Hal Yang penting laiinya yang perlu disadari juga adalah, target-target yang telah dicanangkan harus menjadi motivasi untuk meraihnya, bukan sekedar ngikutin tren. Yang pada akhirnya tercapai atau tidaknya target tersebut bukan menjadi persoalan.
Sabtu, Juni 29, 2013
nulis lagi
anyway, skrg lagi pengen banget standup comedy....pengen nyoba biar tau bisa ga sih gua standup comedy....tapi bingung nulis materinya gimana hehehe....
Senin, Desember 31, 2012
Saya dan Habibie
Minggu, Januari 15, 2012
Wisata Sejarah di Banten Lama
Abu Fathia
Sore itu aku baru saja beres mengikuti perkuliahan. Cuaca yang teduh tapi tetap terasa panas. Ya…Kota Serang memang selalu berhawa panas. Bahkan saat malam hari pun, aku harus menghidupkan kipas angin agar tidak kegerahan. Itupula yang sedang kulakukan sekarang. Pakaian batik masih menempel di tubuhku, hanya beberapa kancing bagian atasnya yang terbuka. Aku tergeletak pasrah ditiup oleh semilir angin yang dihembuskan putaran kipas di depanku.
Sebenarnya mata ini berusaha terpejam, ingin istirahat. Tapi tak jua masuk ke alam mimpi.
“Wiih….dah pulang boy? Beres tah kuliahnya?” tanya Isal yang baru saja selesai mandi.
“Hmmm…..” jawabku.
“Jangan tidur wae atuh boyy….mending jalan – jalan ihhh….” Isal coba menggodaku.
Mataku terbuka. Menarik juga apa yang dikatakan oleh Isal. Sekian lama aku kuliah di Ibukota Provinsi Banten ini, belum sekalipun aku menikmati jejees. Maklum, jadwal kuliahku biasanya sampai setengah enam, hingga tak ada waktu untuk menikmati itu. Kini, dosennya berhalangan untuk hadir, hanya titipan tugas yang membuat kepulangan kami agak terhambat. Tapi itu juga berarti bahwa aku bisa pulang lebih awal, dan bisa menikmati kota Serang di sore hari.
“Kemana???” tanyaku yang mulai terpancing.
“Banten lama yuuu…….katanya kamu pengen ke sana…kan belum pernah terwujud tuh….” Saran Isal. Aku terperanjat kemudian tersenyum.
“Siippp….wokehlah kalo begitu. Ayo kita meluncur ke sana…..” kataku sembari beranjak menuju kamar mandi. Cuci muka, ganti pakaian dan berangkatlah menuju ke Banten Lama, melihat – lihat patilasan Kerajaan Banten.
***
Revi kuning meluncur dengan perlahan menyusuri lekak lekuk kota Serang. Arus lalu lintas lumayan ramai. Hilir mudik kendaraan cukup padat, dari mulai kendaraan besar roda enam (truk), roda empat, roda dua, hingga roda dua klasik (sepeda). Kami harus hati – hati. Juga pada penyeberang jalan yang kadang se-enaknya saja melintasi jalan yang kami lalui.
Oia, lupa. Kostan kami berada di daerah Secang, Pasar Rau. Untuk menuju ke Banten Lama kami mengambil jalur melewati kompleks pasar Rau, Pasar lama, Kasemen dan tibalah di kawasan Banten Lama.
Kurang lebih 20 menit waktu yang diperlukan dari Kostan kami untuk mencapai daerah Banten Lama ini. Sepanjang jalan, Isal bercerita tentang beberapa daerah yang kami lewati, termasuk daerah yang telah aku sebutkan diatas. Hingga tak terasa, sampailah kami di daerah Banten Lama. Sebuah plang bertuliskan ucapan selamat datang di daerah wisata Banten lama menyambut kedatangan kami.
“Nah ini reruntuhan bekas Keraton Surosowan” kata Isal sembari menolehkan wajahnya ke sebelah kiri. Sebuah pagar dinding yang cukup panjang berdiri kokoh mengelilingi satu bagian yang Isal menyebutnya sebagai Keraton Surosowan.
“Ohh…..” kataku sambil mengangguk – ngangguk.
“Mau ke sini dulu??” tanya Isal.
“Kalo Mesjid Agung Banten dimana?” aku balik bertanya.
“Masjid ke sebelah sana lagi” jawab Isal sambil mengarahkan telunjuknya ke tempat yang dimaksud.
“Ke Masjid saja dulu, nanti baru ke sini” kataku. Isal mengangguk. Dan My Yellow Revi pun meluncur ke arah Mesjid Agung. Perlahan tapi pasti, menara Mesjid mulai terlihat. Aku berdecak kagum
Bangunan Mesjid Agung Banten
Sumber foto : Doc. Pribadi
“Subhanallah….akhirnya aku ke sini juga” kataku dalam hati. Sudah sejak lama aku ingin berkunjung ke Masjid Agung Banten. Bagiku, Masjid Agung Banten adalah paduan antara Keagungan Rumah Tuhan dengan Kejayaan Kerajaan Banten. Masjid juga simbol penghambaan manusia kepada Tuhannya. Orang Banten kan terkenal kuat agamanya, dan masjid ini bisa jadi merupakan salah satu buktinya. Kemegahan yang dimiliki oleh Masjid Agung Banten juga menegaskan kebesaran dari Kerajaan Banten.
Setelah memarkirkan kendaraan, aku dan Isal berjalan menuju Masjid Agung Banten.
“Nah, inilah Masjid Agung Banten boyy….” Kata Isal. Aku tersenyum.
“Masjid ini benar – benar megah dan luas” kataku dalam hati.
“Mesjid ini terdiri dari beberapa bagian” kata Isal lagi.
“Apa saja?” tanyaku.
“Ada makamnya, ada tempat senjata kuno, dan itu tentu saja ada menaranya hehehe” kata Isal.
“Owhh….” Kataku. Aku dan Isal kemudian berjalan masuk ke area masjid Agung. Kami masuk melalui pintu kecil di sebelah selatan, yang juga menjadi pintu penghubung dengan kawasan pasar. Tepat di hadapan kami saat masuk adalah seperi sebuah kolam yang saat itu sedang asyik dinikmati oleh beberapa anak kecil. Menurut buku yang pernah aku baca, dulunya kolam itu berfungsi sebagai tempat bersuci, tapi melihat kondisi sekarang, sepertinya tidak mungkin masih berfungsi sama. Tepat di depan kolam itu, di bagian timur Masjid Agung, berdiri kokoh sebuah bangunan menjulang tinggi berwarna putih.
Menara Mesjid Agung Aku di Pintu Menara
Sumber foto : Doc. Pribadi
“Itu Menara Mesjid” Kata Isal sembari menunjuk pada bangunan yang dimaksud. Aku mengangguk. Isal menarik lenganku menuju ke tempat tersebut. Dari buku yang aku baca, tinggi menara ini kurang lebih 23 meter dari permukaan tanah. Bagian dasar menara berdenah segi delapan, dan itu berlaku juga bagi tubuhnya. Di sisi utara tubuh menara tersebut, terdapat pintu masuk.
“Yaahhh…..dikunci….” keluh Isal. “Biasanya ada yang jaga di sini, paling kita ngasih seribu juga dibolehin naik ke atas menara ini” lanjutnya.
Aku menengadah ke atas. Memoriku kembali mengingat apa yang telah kubaca mengenai menara ini. Kepala menara…..ya…itu sebutan untuk bagian paling atas dari menara ini. Terdiri dari dua tingkat yaitu tingkat pertama berbentuk kubah yang terpenggal dan tingkat kedua adalah kubah yang lebih kecil. Bagian paling atas dari kepala menara ini adalah puncak menara yang terdapat memolo atau mustoko berwarna merah hati yang dibuat dari tanah liat menyerupai bunga yang sedang mekar.
“Kalo kita bisa naik, maka kita bisa menikmati keindahan provinsi Banten dari atas menara itu” kata Isal. Aku mengangguk saja.
“Kalo makam dimana??” tanyaku.
“ Oh…itu dibagian dalam, mau sekalian ziarah??” isal balik bertanya. Aku menggeleng.
“Lihat aja yu…” ajakku. Isal mengangguk. Dan kami pun berjalan menuju tempat yang dimaksud. Pemakaman (tempat makam) tersebut berada di bagian Selatan Masjid Agung, bersebelahan dengan museum mini tempat menyimpan alat – alat kuno. Ada juga beberapa senjata kuno yang tersimpan di sana. Pintu masuk pun berada di museum tersebut.
Bangunan Museum_Pintu Masuk menuju Makam
Sumber foto : Doc. Pribadi
Aku dan Isal melangkahkan kaki menuju tempat makam, dan ternyata sedang ada sekelompok orang yang berziarah. Seorang penjaga menghampiri kami kemudian bertanya “Mau ziarah?”. Dan kami serempak menggeleng sambil tersenyum. Aku tidak terlalu tertarik pada acara ziarah, justru lebih tertarik untuk melihat – lihat isi dari museum ini. Ada museum di kompleks Masjid, isinya apa saja ya kira – kira?? Pertanyaan itu yang muncul dibenakku. Sayang…tak ada jawaban, sebab juru kunci museum itu sedang tidak ada, sehingga kami tidak bisa masuk untuk melihat lebih jelas isi dari museum tersebut.
Oia…di sekitar masjid nampak tersedia tempat – tempat para pedagang. Bahkan hampir menyerupai komplek pasar. Waktu aku berkunjung ke sana tidak banyak pedagang yang berjualan, maklum bukan waktunya orang – orang berkunjung ke Masjid Agung. Hanya beberapa pedagang saja yang tetap membuka lapak dagangannya. Beragam barang yang mereka jual, ada makanan, pakaian, alat beribadah, dan ada juga yang menyediakan penukaran uang recehan. Sebab katanya, kalo sedang waktu kunjungan, banyak para pengemis yang berkeliaran di sekitar Masjid.
Aneka Barang Yang Diperdagangkan
Sumber foto : Doc. Pribadi
Waktu beranjak begitu cepat. Matahari semakin rendah di ufuk barat. Aku melirik pergelangan tangan. Masih ada waktu kurang lebih satu jam menuju Magrib. Sementara itu, masih ada dua tempat yang hendak dikunjungi. Akhirnya, Masjid Agung Banten kami tinggalkan, untuk menuju ke tempat berikutnya yaitu Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama.
Jarak antara Masjid Agung Banten dengan Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama (selanjutnya akan disebut Museum SKBL), tidak begitu jauh. Hanya keluar dari kompleks Masjid Agung, kemudian berbelok sedikit tibalah di Museum SKBL.
Sayangnya, waktu sudah terlalu sore, sehingga Museum sudah tutup. Itu artinya aku tak bisa menikmati benda – benda peninggalan sejarah yang ada di dalam Museum Banten. Hanya ada beberapa benda yang di simpan di luar, diantaranya yaitu sebuah Meriam yang bernama Ki Amuk, batu berbentuk bulat yang digunakan untuk menghaluskan lada, dan satu buah batu berbentuk kotak yang biasa digunakan sebagai alas untuk menempa senjata.
Meriam Ki Amuk Batu Penggiling Lada Batu Penempa
Sumber Foto : Doc. Pribadi
Keasyikanku di museum SKBL ini tidak berlangsung lama, sebab waktu semakin sore. Akhirnya aku dan Isal memutuskan untuk meninggalkan Museum dan beranjak pulang.
Di perjalanan pulang aku menyempatkan diri untuk masuk ke Reruntuhan Keraton Surosowan yang dulunya merupakan bangunan tempat tinggal raja dan keluarganya.
“Wahh…..luas banget ya….” kataku saat memasuki kawasan reruntuhan keraton.
“ Iya….hampir 3 hektar luasnya” kata Isal.
“Keraton ini dibangun sekitar abad ke 16, kemungkinan pada masa Sultan Maulana Hasanudin. Dinding itu berfungsi sebagai pelindung bangunan yang ada di dalamnya” kataku sambil menunjuk ke arah dinding yang melingkupi kawasan keraton.
“Semacam benteng ya…” tegas Isal. Aku mengangguk.
“Dinding itu dibuat dari bata dan batu karang yang direkatkan oleh campuran pasir, semen dan kapur. Sangat kuat……tuh, sekarang pun masih berdiri kokoh” kataku lagi.
“Yupss…sayang…keratonnya hanya tinggal puing reruntuhannya saja” kata Isal.
“Ya…Keraton ini terakhir kali dihancurkan oleh Daendels” kata ku. Saat berada di lingkungan keraton tersebut, imajinasiku bekerja, membayangkan betapa indahnya keraton Surosowan ini dahulu. Terbayang juga perjuangan para penghuninya dalam mempertahankan dari serangan penjajah.
Kini, Keraton tinggal menyisakan puing – puingnya saja. Sisa bangunan yang ada berupa pondasi, dan tembok – tembok dinding yang sudah hancur, sisa bangunan petirtaan dan bekas kolam taman dengan bangunan Bale Kambang. Ya….Orang – orangnya sudah mati, tapi puing bangunan ini yang bercerita tentang kehebatan mereka dahulu. Tentang kejayaan Banten tempo dulu.
Waktu berjalan tak mengenal berhenti. Matahari semakin merendah, sinarnya tak lagi seterang waktu siang. Senja mulai merekah. Malam mulai tiba. Perjalanan kami harus berakhir. Padahal, masih banyak peninggalan Kerajaan Banten lainnya yang belum kami kunjungi.
“Mungkin lain kali dan harus menyempatkan untuk wisata Sejarah!!!” begitu tekadku.
Betapa jujur pengakuan zaman
Ketika kenangan tinggal puing
Dan Sejarah hanya tinggal cerita
Tapi masih ada yang tersisa
Puing Reruntuhan kota dan artefak
Memberi kesaksian akan peradaban masa silam
Perjalanan panjang sejarah umat manusia
Memberi pelajaran untuk berfikir, bertindak dan berperilaku bijak
Historia Magistra Vitae
---Dan Wild (dengan sedikit gubahan)---
Senin, Desember 26, 2011
Naskah Drama : Berdirinya Kerajaan Majapahit
Raden Wijaya dan keempat istrinya sedang memantau proses pembukaan lahan oleh para prajuritnya
Istri 1 : “Maaf Baginda, sebenarnya apa maksud baginda menyuruh para prajurit untuk menebang pohon ini?”
Istri 2 :”Betul Baginda maksudnya apa? Bukankah ini termasuk pembalakan liar? Illegal loging gitu deh…”
R. Wijaya : “ Yeee….enak aja. Seperti yang telah kuceritakan sebelumnya pada kalian tentang mimpi aneh yang aku alami. Aku yakin disinilah tempatnya”
Raden Wijaya dan para istrinya berjalan mendekati 2 prajurit yang sedang bekerja.
Istri 3 : “Ooo….tempat yang kelak akan berdiri sebuah kerajaan besar yang akan menyatukan nusantara?”
R Wijaya : (sambil mengangguk) Benar
Istri 4 : “Jadi,,,,disinilah tempatnya. Lalu apa nama kerajaannya??”
R WIjaya : (Diam, sambil memegang dagu) “Emmm…..aku sendiri belum tau, mau dikasih nama apa kerajaan ini”
Di seberang rombongan Raden Wijaya, nampak terlihat dua orang Prajurit yang kelelahan saamelakukan pembukaan lahan.
Prajurit 1 : “Wah….laper nih, mana nggak ada yang dagang bubur lagi…” (samba menoleh kesana kemari)
Prajurit 2 : “Iya nih sama. Eh…tapi aku punya buah ini nih. Kayanya sih buah pohon yang kita tebang ini. cobain deh “
Prajurit 1 : (Memakan, tapi kemudian memuntahkannya sambil terbatuk – batuk)
Prajurit 2 : Kenapa?? (sambil memegang prajurit 1)
Rombongan R Wijaya berhenti di depan para Prajurit
R Wijaya : Hey kenapa kalian???
Prajurit 2 : (sambil membungkuk) Maaf baginda, tadi kami kelaparan lalu memutuskan untuk memakan buah phon ini. kami kira bisa menahan rasa lapar tapi ternyata rasanya pahit”
R Wijaya : mana buahnya?? Coba lihat” (mengulurkan tangan mengambil buah yang diserahkan oleh prajurit)
R Wijaya : (membolak balik sambil merenung) Buah maja rasanya pahit. Maja yang pahit….Majapahit (kemudian melompat kegirangan) Aahaaa…..aku dapat nama untuk kerajaan ini.
Para Istri : “Apa kanda namanya??”
R Wijaya : “MAJAPAHIT….ya….Kerajaan Majapahit….ha…ha…ha….. “(Tertawa sambil mengangkat tangan ke atas dan melangkah pergi meninggalkan ruangan)
Istri dan Para Prajurit : “Hidup Majapahit 3x” (sambil mengikuti raden Wijaya)
