Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, Januari 15, 2012

Wisata Sejarah di Banten Lama


Oleh

Abu Fathia

Sore itu aku baru saja beres mengikuti perkuliahan. Cuaca yang teduh tapi tetap terasa panas. Ya…Kota Serang memang selalu berhawa panas. Bahkan saat malam hari pun, aku harus menghidupkan kipas angin agar tidak kegerahan. Itupula yang sedang kulakukan sekarang. Pakaian batik masih menempel di tubuhku, hanya beberapa kancing bagian atasnya yang terbuka. Aku tergeletak pasrah ditiup oleh semilir angin yang dihembuskan putaran kipas di depanku.

Sebenarnya mata ini berusaha terpejam, ingin istirahat. Tapi tak jua masuk ke alam mimpi.

“Wiih….dah pulang boy? Beres tah kuliahnya?” tanya Isal yang baru saja selesai mandi.

“Hmmm…..” jawabku.

“Jangan tidur wae atuh boyy….mending jalan – jalan ihhh….” Isal coba menggodaku.

Mataku terbuka. Menarik juga apa yang dikatakan oleh Isal. Sekian lama aku kuliah di Ibukota Provinsi Banten ini, belum sekalipun aku menikmati jejees. Maklum, jadwal kuliahku biasanya sampai setengah enam, hingga tak ada waktu untuk menikmati itu. Kini, dosennya berhalangan untuk hadir, hanya titipan tugas yang membuat kepulangan kami agak terhambat. Tapi itu juga berarti bahwa aku bisa pulang lebih awal, dan bisa menikmati kota Serang di sore hari.

“Kemana???” tanyaku yang mulai terpancing.

“Banten lama yuuu…….katanya kamu pengen ke sana…kan belum pernah terwujud tuh….” Saran Isal. Aku terperanjat kemudian tersenyum.

“Siippp….wokehlah kalo begitu. Ayo kita meluncur ke sana…..” kataku sembari beranjak menuju kamar mandi. Cuci muka, ganti pakaian dan berangkatlah menuju ke Banten Lama, melihat – lihat patilasan Kerajaan Banten.

***

Revi kuning meluncur dengan perlahan menyusuri lekak lekuk kota Serang. Arus lalu lintas lumayan ramai. Hilir mudik kendaraan cukup padat, dari mulai kendaraan besar roda enam (truk), roda empat, roda dua, hingga roda dua klasik (sepeda). Kami harus hati – hati. Juga pada penyeberang jalan yang kadang se-enaknya saja melintasi jalan yang kami lalui.

Oia, lupa. Kostan kami berada di daerah Secang, Pasar Rau. Untuk menuju ke Banten Lama kami mengambil jalur melewati kompleks pasar Rau, Pasar lama, Kasemen dan tibalah di kawasan Banten Lama.

Kurang lebih 20 menit waktu yang diperlukan dari Kostan kami untuk mencapai daerah Banten Lama ini. Sepanjang jalan, Isal bercerita tentang beberapa daerah yang kami lewati, termasuk daerah yang telah aku sebutkan diatas. Hingga tak terasa, sampailah kami di daerah Banten Lama. Sebuah plang bertuliskan ucapan selamat datang di daerah wisata Banten lama menyambut kedatangan kami.

“Nah ini reruntuhan bekas Keraton Surosowan” kata Isal sembari menolehkan wajahnya ke sebelah kiri. Sebuah pagar dinding yang cukup panjang berdiri kokoh mengelilingi satu bagian yang Isal menyebutnya sebagai Keraton Surosowan.

“Ohh…..” kataku sambil mengangguk – ngangguk.

“Mau ke sini dulu??” tanya Isal.

“Kalo Mesjid Agung Banten dimana?” aku balik bertanya.

“Masjid ke sebelah sana lagi” jawab Isal sambil mengarahkan telunjuknya ke tempat yang dimaksud.

“Ke Masjid saja dulu, nanti baru ke sini” kataku. Isal mengangguk. Dan My Yellow Revi pun meluncur ke arah Mesjid Agung. Perlahan tapi pasti, menara Mesjid mulai terlihat. Aku berdecak kagum

Bangunan Mesjid Agung Banten

Sumber foto : Doc. Pribadi

“Subhanallah….akhirnya aku ke sini juga” kataku dalam hati. Sudah sejak lama aku ingin berkunjung ke Masjid Agung Banten. Bagiku, Masjid Agung Banten adalah paduan antara Keagungan Rumah Tuhan dengan Kejayaan Kerajaan Banten. Masjid juga simbol penghambaan manusia kepada Tuhannya. Orang Banten kan terkenal kuat agamanya, dan masjid ini bisa jadi merupakan salah satu buktinya. Kemegahan yang dimiliki oleh Masjid Agung Banten juga menegaskan kebesaran dari Kerajaan Banten.

Setelah memarkirkan kendaraan, aku dan Isal berjalan menuju Masjid Agung Banten.

“Nah, inilah Masjid Agung Banten boyy….” Kata Isal. Aku tersenyum.

“Masjid ini benar – benar megah dan luas” kataku dalam hati.

“Mesjid ini terdiri dari beberapa bagian” kata Isal lagi.

“Apa saja?” tanyaku.

“Ada makamnya, ada tempat senjata kuno, dan itu tentu saja ada menaranya hehehe” kata Isal.

“Owhh….” Kataku. Aku dan Isal kemudian berjalan masuk ke area masjid Agung. Kami masuk melalui pintu kecil di sebelah selatan, yang juga menjadi pintu penghubung dengan kawasan pasar. Tepat di hadapan kami saat masuk adalah seperi sebuah kolam yang saat itu sedang asyik dinikmati oleh beberapa anak kecil. Menurut buku yang pernah aku baca, dulunya kolam itu berfungsi sebagai tempat bersuci, tapi melihat kondisi sekarang, sepertinya tidak mungkin masih berfungsi sama. Tepat di depan kolam itu, di bagian timur Masjid Agung, berdiri kokoh sebuah bangunan menjulang tinggi berwarna putih.

Menara Mesjid Agung Aku di Pintu Menara

Sumber foto : Doc. Pribadi

“Itu Menara Mesjid” Kata Isal sembari menunjuk pada bangunan yang dimaksud. Aku mengangguk. Isal menarik lenganku menuju ke tempat tersebut. Dari buku yang aku baca, tinggi menara ini kurang lebih 23 meter dari permukaan tanah. Bagian dasar menara berdenah segi delapan, dan itu berlaku juga bagi tubuhnya. Di sisi utara tubuh menara tersebut, terdapat pintu masuk.

“Yaahhh…..dikunci….” keluh Isal. “Biasanya ada yang jaga di sini, paling kita ngasih seribu juga dibolehin naik ke atas menara ini” lanjutnya.

Aku menengadah ke atas. Memoriku kembali mengingat apa yang telah kubaca mengenai menara ini. Kepala menara…..ya…itu sebutan untuk bagian paling atas dari menara ini. Terdiri dari dua tingkat yaitu tingkat pertama berbentuk kubah yang terpenggal dan tingkat kedua adalah kubah yang lebih kecil. Bagian paling atas dari kepala menara ini adalah puncak menara yang terdapat memolo atau mustoko berwarna merah hati yang dibuat dari tanah liat menyerupai bunga yang sedang mekar.

“Kalo kita bisa naik, maka kita bisa menikmati keindahan provinsi Banten dari atas menara itu” kata Isal. Aku mengangguk saja.

“Kalo makam dimana??” tanyaku.

“ Oh…itu dibagian dalam, mau sekalian ziarah??” isal balik bertanya. Aku menggeleng.

“Lihat aja yu…” ajakku. Isal mengangguk. Dan kami pun berjalan menuju tempat yang dimaksud. Pemakaman (tempat makam) tersebut berada di bagian Selatan Masjid Agung, bersebelahan dengan museum mini tempat menyimpan alat – alat kuno. Ada juga beberapa senjata kuno yang tersimpan di sana. Pintu masuk pun berada di museum tersebut.

Bangunan Museum_Pintu Masuk menuju Makam

Sumber foto : Doc. Pribadi

Aku dan Isal melangkahkan kaki menuju tempat makam, dan ternyata sedang ada sekelompok orang yang berziarah. Seorang penjaga menghampiri kami kemudian bertanya “Mau ziarah?”. Dan kami serempak menggeleng sambil tersenyum. Aku tidak terlalu tertarik pada acara ziarah, justru lebih tertarik untuk melihat – lihat isi dari museum ini. Ada museum di kompleks Masjid, isinya apa saja ya kira – kira?? Pertanyaan itu yang muncul dibenakku. Sayang…tak ada jawaban, sebab juru kunci museum itu sedang tidak ada, sehingga kami tidak bisa masuk untuk melihat lebih jelas isi dari museum tersebut.

Oia…di sekitar masjid nampak tersedia tempat – tempat para pedagang. Bahkan hampir menyerupai komplek pasar. Waktu aku berkunjung ke sana tidak banyak pedagang yang berjualan, maklum bukan waktunya orang – orang berkunjung ke Masjid Agung. Hanya beberapa pedagang saja yang tetap membuka lapak dagangannya. Beragam barang yang mereka jual, ada makanan, pakaian, alat beribadah, dan ada juga yang menyediakan penukaran uang recehan. Sebab katanya, kalo sedang waktu kunjungan, banyak para pengemis yang berkeliaran di sekitar Masjid.

Aneka Barang Yang Diperdagangkan

Sumber foto : Doc. Pribadi

Waktu beranjak begitu cepat. Matahari semakin rendah di ufuk barat. Aku melirik pergelangan tangan. Masih ada waktu kurang lebih satu jam menuju Magrib. Sementara itu, masih ada dua tempat yang hendak dikunjungi. Akhirnya, Masjid Agung Banten kami tinggalkan, untuk menuju ke tempat berikutnya yaitu Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama.

Jarak antara Masjid Agung Banten dengan Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama (selanjutnya akan disebut Museum SKBL), tidak begitu jauh. Hanya keluar dari kompleks Masjid Agung, kemudian berbelok sedikit tibalah di Museum SKBL.

Sayangnya, waktu sudah terlalu sore, sehingga Museum sudah tutup. Itu artinya aku tak bisa menikmati benda – benda peninggalan sejarah yang ada di dalam Museum Banten. Hanya ada beberapa benda yang di simpan di luar, diantaranya yaitu sebuah Meriam yang bernama Ki Amuk, batu berbentuk bulat yang digunakan untuk menghaluskan lada, dan satu buah batu berbentuk kotak yang biasa digunakan sebagai alas untuk menempa senjata.

Meriam Ki Amuk Batu Penggiling Lada Batu Penempa

Sumber Foto : Doc. Pribadi

Keasyikanku di museum SKBL ini tidak berlangsung lama, sebab waktu semakin sore. Akhirnya aku dan Isal memutuskan untuk meninggalkan Museum dan beranjak pulang.

Di perjalanan pulang aku menyempatkan diri untuk masuk ke Reruntuhan Keraton Surosowan yang dulunya merupakan bangunan tempat tinggal raja dan keluarganya.

“Wahh…..luas banget ya….” kataku saat memasuki kawasan reruntuhan keraton.

“ Iya….hampir 3 hektar luasnya” kata Isal.

“Keraton ini dibangun sekitar abad ke 16, kemungkinan pada masa Sultan Maulana Hasanudin. Dinding itu berfungsi sebagai pelindung bangunan yang ada di dalamnya” kataku sambil menunjuk ke arah dinding yang melingkupi kawasan keraton.

“Semacam benteng ya…” tegas Isal. Aku mengangguk.

“Dinding itu dibuat dari bata dan batu karang yang direkatkan oleh campuran pasir, semen dan kapur. Sangat kuat……tuh, sekarang pun masih berdiri kokoh” kataku lagi.

“Yupss…sayang…keratonnya hanya tinggal puing reruntuhannya saja” kata Isal.

“Ya…Keraton ini terakhir kali dihancurkan oleh Daendels” kata ku. Saat berada di lingkungan keraton tersebut, imajinasiku bekerja, membayangkan betapa indahnya keraton Surosowan ini dahulu. Terbayang juga perjuangan para penghuninya dalam mempertahankan dari serangan penjajah.

Kini, Keraton tinggal menyisakan puing – puingnya saja. Sisa bangunan yang ada berupa pondasi, dan tembok – tembok dinding yang sudah hancur, sisa bangunan petirtaan dan bekas kolam taman dengan bangunan Bale Kambang. Ya….Orang – orangnya sudah mati, tapi puing bangunan ini yang bercerita tentang kehebatan mereka dahulu. Tentang kejayaan Banten tempo dulu.

Waktu berjalan tak mengenal berhenti. Matahari semakin merendah, sinarnya tak lagi seterang waktu siang. Senja mulai merekah. Malam mulai tiba. Perjalanan kami harus berakhir. Padahal, masih banyak peninggalan Kerajaan Banten lainnya yang belum kami kunjungi.

“Mungkin lain kali dan harus menyempatkan untuk wisata Sejarah!!!” begitu tekadku.

Betapa jujur pengakuan zaman

Ketika kenangan tinggal puing

Dan Sejarah hanya tinggal cerita

Tapi masih ada yang tersisa

Puing Reruntuhan kota dan artefak

Memberi kesaksian akan peradaban masa silam

Perjalanan panjang sejarah umat manusia

Memberi pelajaran untuk berfikir, bertindak dan berperilaku bijak

Historia Magistra Vitae

---Dan Wild (dengan sedikit gubahan)---

Senin, Desember 26, 2011

Naskah Drama : Berdirinya Kerajaan Majapahit

Prolog : ***

Raden Wijaya dan keempat istrinya sedang memantau proses pembukaan lahan oleh para prajuritnya

Istri 1 : “Maaf Baginda, sebenarnya apa maksud baginda menyuruh para prajurit untuk menebang pohon ini?”

Istri 2 :”Betul Baginda maksudnya apa? Bukankah ini termasuk pembalakan liar? Illegal loging gitu deh…”

R. Wijaya : “ Yeee….enak aja. Seperti yang telah kuceritakan sebelumnya pada kalian tentang mimpi aneh yang aku alami. Aku yakin disinilah tempatnya”

Raden Wijaya dan para istrinya berjalan mendekati 2 prajurit yang sedang bekerja.

Istri 3 : “Ooo….tempat yang kelak akan berdiri sebuah kerajaan besar yang akan menyatukan nusantara?”

R Wijaya : (sambil mengangguk) Benar

Istri 4 : “Jadi,,,,disinilah tempatnya. Lalu apa nama kerajaannya??”

R WIjaya : (Diam, sambil memegang dagu) “Emmm…..aku sendiri belum tau, mau dikasih nama apa kerajaan ini”

Di seberang rombongan Raden Wijaya, nampak terlihat dua orang Prajurit yang kelelahan saamelakukan pembukaan lahan.

Prajurit 1 : “Wah….laper nih, mana nggak ada yang dagang bubur lagi…” (samba menoleh kesana kemari)

Prajurit 2 : “Iya nih sama. Eh…tapi aku punya buah ini nih. Kayanya sih buah pohon yang kita tebang ini. cobain deh “

Prajurit 1 : (Memakan, tapi kemudian memuntahkannya sambil terbatuk – batuk)

Prajurit 2 : Kenapa?? (sambil memegang prajurit 1)

Rombongan R Wijaya berhenti di depan para Prajurit

R Wijaya : Hey kenapa kalian???

Prajurit 2 : (sambil membungkuk) Maaf baginda, tadi kami kelaparan lalu memutuskan untuk memakan buah phon ini. kami kira bisa menahan rasa lapar tapi ternyata rasanya pahit”

R Wijaya : mana buahnya?? Coba lihat” (mengulurkan tangan mengambil buah yang diserahkan oleh prajurit)

R Wijaya : (membolak balik sambil merenung) Buah maja rasanya pahit. Maja yang pahit….Majapahit (kemudian melompat kegirangan) Aahaaa…..aku dapat nama untuk kerajaan ini.

Para Istri : “Apa kanda namanya??”

R Wijaya : “MAJAPAHIT….ya….Kerajaan Majapahit….ha…ha…ha….. “(Tertawa sambil mengangkat tangan ke atas dan melangkah pergi meninggalkan ruangan)

Istri dan Para Prajurit : “Hidup Majapahit 3x” (sambil mengikuti raden Wijaya)

Jumat, Juli 01, 2011

MERUMUSKAN KARAKTER DAN BUDAYA BANGSA DI SEKOLAH*

Oleh
Miftah Faturohman, S.Pd#

“Intelligence plus character….that is the goal of true education”
(Dr. Martin Luther King)

Pengantar
Suatu kali entah di chatting pesbuk entah melalui sms, saya ditanya oleh adik saya, “Kang, bisa bantuin ga?....isu atau masalah apa yang sedang hangat di dunia pendidikan saat ini?…buat bikin makalah nih” kurang lebih seperti itu pertanyaannya. Sejenak saya berfikir, mencari jawaban, apa yang paling hangat?.

Sambil menunggu datangnya jawaban, saya balas smsnya “Banyak atuh, mau tentang apanya, proses pendidikannya? Atau tentang pembelajarannya, misal metode atau model??”. Salah satu yang harus dilakukan oleh guru saat ada siswa yang bertanya adalah jangan langsung dijawab, tapi lemparkan pada siswa yang lain ;-), dan saya baru saja mengaplikasikan itu . *padahal mah lagi nyari jawaban xixixi

“Secara umum aja…” balasnya.

Dan akhirnya jawaban itu ketemu “Kalo secara umum sih ada Pendidikan Karakter, kalo pembelajaran ada konsep Blended Learning….sok, bahas tentang itu az….”
Dan percakapan pun berlanjut. Tapi, tulisan ini tidak hendak membahas percakapannya tentu saja, melainkan salah satu content dari percakapan itu yaitu Konsep Pendidikan Karakter.

Seiring dengan perkembangan zaman, ternyata masyarakat Indonesia –khususnya anak usia sekolah- telah mengalami degradasi moral. Salah satu indikatornya adalah banyaknya anak usia sekolah yang sudah tidak perawan lagi. Pembicaraan sex yang dulu dikenal tabu, kini menjadi lebih terbuka. Bahkan sudah “diaplikasikan sejak dini”. Belum lagi penggunaan zat aditif serta tawuran antar pelajar, semakin membuat mental dan akhlak para anak usia sekolah menjadi tidak baik.

Kemudahan akses informasi yang sekarang dirasakan, ternyata juga memiliki efek negatif, ketika penggunaannya tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. Banyak tayangan – tayangan yang kurang –bahkan tidak- mendidik mudah untuk didapatkan oleh para siswa. Inilah salah satu penyebab rusaknya moral siswa. Penyebab lain dari kemunduran moral siswa adalah faktor lingkungan. Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian karakter siswa dibentuk oleh lingkungan sebagai tempatnya bersosialisasi.

Para siswa adalah generasi penerus bangsa. Di tangan merekalah masa depan bangsa ini ditentukan. Tidak terbayang, kalo generasi yang akan memimpin masa depan memiliki moral yang buruk, akan jadi apa bangsa ini. Oleh karena itu, perlu ada upaya dalam rangka mempersiapkan generasi yang cerdas dan bermoral. Salah satunya adalah melalui Pendidikan Karakter dalam rangka character building siswa sebagai generasi penerus bangsa.

Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa
Pendidikan adalah upaya sadar dan terencana dalam mengembangkan potensi peserta didik melalui serangkaian proses yang sistematis dan terstruktur. Beberapa potensi yang menjadi tujuan pendidikan nasional diantaranya yaitu kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Hal ini berarti bahwa para siswa tidak hanya cerdas dalam hal pengetahuan saja, melainkan juga memiliki kepribadian yang baik dan berakhlak mulia.
Budaya diartikan sebagai keseluruhan sistem berpikir, nilai, moral, norma dan keyakinan manusia yang dihasilkan masyarakat. Karakter diartikan sebagai watak, tabiat, akhlak atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini dan digunakannya sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap dan bertindak.

Dari pendidikan diharapkan dapat terbentuk budaya dan karakter bangsa yang bernilai positif. Hal ini sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan demikian, penting bagi semua pihak yang terlibat dalam proses pendidikan (baik institusi maupun personal) untuk mengembangkan dan mengaplikasikan pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah pendidikan yang mengembangkan nilai – nilai budaya dan karakter bangsa pada diri para siswa sehingga mereka memiliki dan menerapkan nilai – nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, baik sebagai anggota keluarga, masyarakat maupun warga negara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif. Pengertian lain menyebutkan bahwa pendidikan karakter adalah proses penanaman nilai – nilai karakter yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran, kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai – nilai tersebut (Sudrajat, 2010 @ web). Sementara Prof Suyanto (2009, @web) menyatakan bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan, perasaan dan tindakan. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter bukan hanya wacana semata atau pembahasan dalam proses pendidikan saja, melainkan juga harus dihayati dan diaplikasikan.

Berdasarkan grand design yang dikembangkan Kemendiknas (2010), secara psikologis dan sosial kultural pembentukan karakter dalam diri individu merupakan fungsi dari seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, konatif, dan psikomotorik) dalam konteks interaksi sosial kultural (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dapat dikelompokkan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development) , Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development). Dengan demikian, proses pendidikan karakter yang dikembangkan harus menyentuh ke empat konfigurasi karakter tersebut.

Mengembangkan Budaya dan Karakter Bangsa di Sekolah

Secara programatik, pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah usaha bersama semua pihak yang terlibat dalam pendidikan (baik jenjang formal, non-formal maupun informal) dalam lingkup nasional. Sementara secara teknis, pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan proses penanaman yang dilakukan oleh guru terhadap siswa sebagai objek dari pendidikan, di bawah bimbingan Kepala sekolah yang diwujudkan dalam kehidupan keseharian baik di kelas, sekolah, maupun di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Sekolah, merupakan salah satu lingkungan tempat siswa beraktivitas dan bersosialisasi. Meskipun dalam jangka waktu yang cukup singkat, tetapi banyak hal yang bisa dipelajari oleh siswa, yang kemudian bisa saja itu menjadi satu kebiasaan sehingga memberikan kontribusi terhadap karakter siswa tersebut. Oleh karena itu sekolah memiliki peran penting dalam mengarahkan – bahkan membentuk – karakter bangsa. Prof. Fasli Djalal –WaMenDikNas- mengusulkan agar sebaiknya tiap sekolah memiliki program school culture dimana setiap sekolah memilih pendisiplinan dan kebiasaan mengenai karakter yang akan dibentuk. Lebih lanjut Wamendiknas pun berpesan, agar para pemimpin dan pendidik lembaga pendidikan tersebut dapat mampu memberikan suri teladan mengenai karakter tersebut (Herdani, 2010 @web).

Ada kurang lebih 20 budaya dan karakter bangsa yang bisa dikembangkan dan diterapkan di sekolah, yaitu :

a. Bersih dan Nyaman
b. Disiplin
c. Sopan
d. Religius
e. Jujur
f. Toleransi
g. Kerja Keras
h. Kreatif
i. Mandiri
j. Demokratis
k. Rasa ingin tahu
l. Semangat kebangsaan
m. Cinta tanah air
n. Menghargai prestasi
o. Bersahabat / komunikatif
p. Cinta damai
q. Gemar membaca
r. Peduli lingkungan
s. Peduli sosial
t. Rasa tanggung jawab

Idealnya tentu saja kesemua karakter dan budaya itu dikembangkan dan dilaksanakan di tiap sekolah. Akan tetapi pasti membutuhkan proses yang cukup lama. Bukan bermaksud pesimis, melainkan kita –sebagai pihak yang akan mengembangkan- perlu mempertimbangkan situasi dan kondisi di sekolah, terutama kondisi siswa. Oleh karena itu perlu ada perencanaan dalam mengembangkan karakter dan budaya bangsa di sekolah.

Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pengembangan karakter dan budaya bangsa di sekolah, diantaranya yaitu :
a.Direncanakan bersama
Program pengembangan karakter dan budaya bangsa harus menjadi program sekolah, yang berarti bahwa melibatkan semua pihak di sekolah, baik tenaga pendidik, tenaga kependidikan, siswa dan jika perlu melibatkan komite sekolah. Hal ini juga mengiring kepada partisipasi aktif dari semua pihak. Termasuk dalam menentukan karakter dan budaya mana yang akan dikembangkan terlebih dahulu. Dengan demikian, akan muncul komitmen dan tanggung jawab bersama untuk mewujudkan apa yang telah direncanakan tersebut.
b.Berkelanjutan
Pengembangan budaya dan karakter adalah sebuah proses yang berkelanjutan. Dalam artian selalu dilaksanakan dan dikembangkan dari waktu ke waktu. Prinsip ini juga bisa diartikan sebagai proses bertahap dari pengembangan semua karakter dan budaya yang telah disebutkan di atas. Misalkan, karakter dan budaya yang akan dikembangkan di tahun pertama berjumlah lima, sesuai dengan kondisi dan hasil pertimbangan bersama. Tahun kedua, ditingkatkan menjadi 6 atau 7. Dan begitu seterusnya. Dengan demikian, tidak ada kata berhenti dalam proses pengembangan karakter dan budaya bangsa.
c.Terintegrasi dalam mata pelajaran, muatan lokal, kepribadian dan budaya sekolah
Salah satu cara dalam mengembangkan budaya dan karakter bangsa adalah dengan mengintegrasikannya dalam pelbagai kegiatan sekolah. Misalkan, dalam kegiatan pembelajaran. Karakter dan budaya yang akan dikembangkan masuk dalam materi pelajaran dari setiap mata pelajaran yang memiliki keterkaitan / keterhubungan. Sebagai contoh kongkrit adalah memasukkan nilai religius dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam; kreativitas dalam pelajaran Seni Budaya dan keterampilan; demokratis dalam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dan lain sebagainya.
d.Dilakukan secara aktif;
Pengembangan karakter dan budaya bangsa di sekolah bukanlah sekedar wacana atau pengetahuan semata, melainkan juga harus diaplikasikan atau dipraktekkan. Oleh karena itu, perlu dilakukan secara aktif dan bahkan menjadi ciri khas atau kebiasaan di lingkungan sekolah. Dalam konteks ini, baik tenaga pendidik dan kependidikan maupun siswa harus melakukan dan membiasakan secara aktif nilai – nilai karakter dan budaya bangsa yang telah ditetapkan.
Mengacu pada prinsip tersebut di atas, maka ada beberapa tahapan yang bisa dilakukan dalam rangka merumuskan dan mengembangkan karakter dan budaya bangsa di sekolah, diantaranya yaitu :
a. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah merumuskan bersama karakter dan budaya apa yang akan dibentuk dan dikembangkan di sekolah kita. Sebagai acuan adalah 20 karakter dan budaya bangsa yang telah disebutkan di atas.
b. Langkah kedua adalah membuat analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat). Langkah ini dilakukan sebagai pertimbangan kemungkinan penerapan dan pengembangan karakter dan budaya yang dipilih. Situasi dan kondisi lingkungan sekolah menjadi dasar dalam proses pertimbangan ini, sehingga didapat daya dukung ataupun penghambat dari upaya pengembangan karakter dan budaya sekolah. Biasanya, dari proses ini pula terjadi pengurangan atau penambahan karakter yang akan dipilih.
c. Setelah melakukan analisis SWOT maka didapat karakter dan budaya yang akan dikembangkan. Langkah selanjutnya adalah menyusun indikator ketercapaian karakter. Sebagaimana proses pembelajaran ataupun program kerja lainnya, indikator dibuat sebagai standar minimal tercapainya suatu proses. Indikator juga menjadi acuan dari kegiatan – kegiatan yang akan dilaksanakan. Adapun indikator yang dibuat bisa dibagi menjadi dua bagian yaitu indikator kelas dan indikator sekolah.
d. Langkah berikutnya adalah menyusun strategi pengembangan. Dalam langkah ini mengacu pada prinsip terintegrasi dalam proses pembelajaran dan kegiatan sekolah lainnya seperti pengembangan diri yang meliputi kegiatan Ekskul, BK, kegiatan terprogram, kegiatan rutin, kegiatan spontan dan kegiatan teladan.
e. Jika strategi pengembangan karakter dan budaya bangsa di sekolah telah selesai dibuat, maka langkah berikutnya adalah mencantumkan dalam program sekolah bagian pengembangan budaya dan karakter bangsa. Dengan demikian, sudah menjadi kewajiban bagi sekolah untuk melaksanakan program pengembangan karakter dan budaya bangsa di sekolah tersebut. Dalam program ini dialokasikan pula besaran dana untuk proses pengembangan tersebut.
f. Langkah terakhir adalah evaluasi program. Langkah ini bisa dilakukan secara rutin baik per-triwulan, per-semester ataupun per-tahun, tergantung dari kebutuhan dan kesepakatan bersama. Evaluasi juga dilakukan sebagai langkah untuk perbaikan di periode berikutnya.

Penutup
“Beri aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncangkan dunia” (Ir. Soekarno)
Generasi muda adalah aset berharga yang dimiliki oleh setiap bangsa. Jika para pemuda memiliki karakter yang kuat, maka bangsa yang maju adalah satu kepastian. Sebaliknya, jika generasi muda yang ada memiliki karakter yang lemah dan mudah tergerus oleh perkembangan zaman, maka jangan harap bangsa itu akan tetap berdiri kokoh.

Siswa sebagai bagian dari generasi muda, juga menjadi penentu masa depan bangsa. Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda yang berkarakter hebat. Melalui pendidikanlah, para generasi muda mengetahui mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Mereka tau potensi yang bisa dikembangkan dalam diri mereka, sehingga mampu memberikan manfaat bagi dirinya, keluarganya, lingkungan masyarakat dan Negara.

Demikianlah tulisan singkat mengenai pengembangan pendidikan karakter dan budaya bangsa di sekolah. Saya tau bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat saya harapkan demi perbaikan di tulisan – tulisan berikutnya.

Semoga bermanfaat !

Refferensi
Herdani, Y, 2010. Pendidikan Karakter Sebagai Pondasi Kesuksesan Peradaban Bangsa. [on-line at] http://www.dikti.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1540:pendidikan-karakter-sebagai-pondasi-kesuksesan-peradaban-bangsa&catid=143:berita-harian
Sudrajat, A. 2010. Tentang Pendidikan Karakter. [on-line] at http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/08/20/pendidikan-karakter-di-smp/
-------------------. 2010. Konsep Pendidikan Karakter. [on-line] at http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/09/15/konsep-pendidikan-karakter/
Suyanto, Prof. Ph.D. 2009. Urgensi Pendidikan Karakter. [on-line] at http://mandikdasmen.kemdiknas.go.id/web/pages/urgensi.html
Tulisan - tulisan hasil Pelatihan Wakasek

* Tulisan ini adalah refleksi dari pelatihan Wakasek yang dilaksanakan oleh DisDik Kab. Lebak 19 – 21 Juni 2011 @PSBB
#Penulis adalah Guru di SMPN Satap 7 Cibeber

Kamis, Januari 24, 2008

Mendekatkan Sejarah Pada Siswa : Pengalaman Mengajar di SMA N 2 Bandung

Pembelajaran Sejarah di sekolah, senantiasa memiliki persepsi yang kurang baik. Ketertarikan siswa terhadap mata pelajaran sejarah selalu dianggap rendah. Bahkan, Sejarah dianggap sebagai salah satu mata pelajaran yang membosankan. Kecenderungan yang muncul adalah, persepsi bahwa sejarah itu tidak memiliki manfaat atau kegunaan. Selain itu, penempatan jam pelajaran sejarah juga menjadi salah satu alasan kenapa siswa enggan untuk belajar sejarah. Contoh, sejarah ditempatkan di akhir jam pelajaran, yang menjadikan siswa itu lebih fokus pada keinginan untuk segera pulang. Atau Sejarah ditempatkan di tengah-tengah pelajaran Matematika dan Fisika. Matematika ulangan dan Fisika ada PR, maka sejarah-pun jadi “korban” ke-pusingan siswa yang kemudian diwujudkan dengan tidak mengikuti pelajaran sejarah dengan baik. Dan secara nyata, penulis merasakan sendiri ketika mengajar di SMA N 2 Bandung. Berdasarkan hasil angket yang penulis berikan pada siswa, sebagian besar menyatakan tidak tertarik atau biasa saja pada pelajaran sejarah, karena penempatan waktunya yang kurang mendukung (jam terakhir).
Pada dasarnya, menurut asumsi penulis, minat belajar siswa terhadap suatu mata pelajaran ditentukan oleh beberapa hal, diantaranya yaitu :
a. Potensi siswa itu sendiri
b. Lingkungan sekitar
c. Pola mengajar guru
Potensi siswa merupakan salah satu faktor yang menjadikan suka atau tidaknya siswa itu terhadap suatu mata pelajaran. Dalam hal ini, penulis berpendapat bahwa bawaan yang dimiliki oleh siswa akan menentukan sikapnya terhadap mata pelajaran. Jika siswa itu rajin dan tekun menghadapi rumus-rumus, maka ia pasti akan senang terhadap mata pelajaran yang ada rumusnya. Begitu juga jika siswa memiliki potensi untuk berbicara di depan kelas, ataupun berbicara untuk bertanya dan menjawab, maka ia akan lebih menyukai pelajaran yang lebih banyak kesempatan untuk berbicaranya.
Lingkungan yang penulis maksud lebih terfokus pada teman sepergaulannya di sekolah (lebih dekat lagi mungkin teman sebangku). Disadari atau tidak, seorang teman dapat mempengaruhi minat belajar siswa itu sendiri. Misalkan A sebangku dengan B. A menyukai pelajaran yang bersifat hitungan, sedangkan B tidak. Ketika proses pembelajaran, tingkah laku si A, yang rajin mengerjakan rumus kemudian maju ke depan untuk menyelesaikan soal dan mendapat rewards baik dari guru ataupun siswa lainnya, bisa menarik respon dari B, sehingga si B pun turut menyukai pelajaran hitungan. Belum lagi dengan adanya obrolan (kalau tidak mau dikatakan diskusi) ringan ketika di luar kelas, yang kemudian menarik minat siswa terhadap suatu mata pelajaran.
Yang terakhir adalah pola mengajar guru. Pernahkah kita (Guru Sejarah ataupun guru lainnya)melihat siswa yang mengerjakan pelajaran lain, padahal sekarang sedang pelajaran kita? Misalkan, sekarang adalah jam pelajaran sejarah, namun ternyata beberapa orang siswa malah sibuk dengan PR Kimia atau Fisikanya??? Kenapa mereka berbuat seperti itu?? Memang masih bisa menyalahkan siswa dengan asumsi kenapa siswa tidak mengerjakan PR di rumah. Tapi ini menjadi salah satu indikator, bahwa siswa tidak begitu berminat untuk belajar sejarah. Kalau siswa berminat, mau PR sebanyak apapun, dia tidak ingin melewatkan pelajaran sejarah. Lalu apa yang salah??
Dalam hal ini, penulis lebih memfokuskan pada strategi atau metode mengajar yang dipakai oleh seorang guru, khususnya guru sejarah. Kejenuhan siswa terhadap mata pelajaran sejarah, dapat disebabkan oleh pola mengajar gurunya. Dalam hal ini guru menyampaikan materi secara monoton, yaitu ceramah dan biasanya minim penggunaan media. Sehingga siswa menjadi pasif dan akhirnya merasa enggan untuk belajar sejarah. Bandingkan dengan pelajaran eksakta , matematika misalnya. Meskipun metode yang digunakan adalah ceramah, tetapi siswa diajak untuk berfikir dalam mencari hasil sebuah soal. Sehingga siswa merasa terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
Dari permasalahan di atas, ada dua hal yang menurut penulis yang menjadi faktor penyebab siswa tidak berminat pada sejarah. Pertama, Guru kurang begitu menarik dalam hal penyampaian materi dan kedua, siswa tidak terlibat dalam pembelajaran. Begitu banyak strategi pembelajaran yang dikemukakan oleh para ahli. Mulai dari ceramah hingga role playing. Namun kenapa guru lebih sering menggunakan metode ceramah. Dalam hal ini, faktor kreativitas seorang guru memiliki peranan penting. Pembuatan media pembelajaran merupakan salah satu bentuk kreativitas guru. Kemajuan IPTEK lebih memudahkan guru untuk menarik minat siswa melalui penggunaan media pembelajaran. Ataupun dengan menggunakan peralatan yang sederhana, dimana guru mencoba “me-nyata-kan” atau menggambarkan materi pembelajaran agar itu lebih dirasakan oleh siswa. Yang pasti, penggunaan media pembelajaran merupakan salah satu solusi untuk menarik minat belajar siswa. Berdasarkan pengalaman penulis dan hasil penyebaran angket, siswa lebih senang untuk belajar di ruang Multimedia daripada di ruang kelas.
Pembelajaran sejarah akan menjadi menarik jika siswa merasakan terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Sebenarnya banyak materi sejarah yang itu sangat dekat dengan kehidupan siswa. Sehingga, siswa bisa menyadari bahwa sejarah itu sangat berguna bagi kehidupannya. Pelajaran IPA sering disukai oleh siswa, salah satunya adalah karena ada Praktek baik itu di Laboratorium atau di tempat lain. IPS?? Sepengetahuan penulis, jarang melakukan praktek. Padahal IPS itu memiliki materi-materi belajar yang sering dialami oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pelajaran sejarah, salah satu materi yang bisa diaplikasikan (diwujudkan atau dipraktekkan) oleh siswa adalah materi tentang penelitian sejarah. Penelitian adalah suatu proses pengkajian secara mendalam yang dilakukan terhadap suatu objek dengan menggunakan metode tertentu. Jadi penelitian sejarah adalah proses pengkajian objek sejarah, baik itu peristiwa, tokoh, ataupun masyarakat. Untuk memudahkan penelitian, maka unsur emosional peneliti memiliki peranan penting. Maksudnya adalah peneliti hendaknya mencari objek penelitian yang dekat dengan kehidupan peneliti. Dalam konteks pembelajaran sejarah di sekolah, praktek penelitian sejarah bisa dilakukan oleh siswa. Objeknya tentu saja yang dekat dengan kehidupan siswa di sekolah. Siswa bisa meneliti sejarah perkembangan sekolahnya, membuat biografi guru idola-nya dan permasalahan yang berhubungan dengan kehidupan di sekolahnya. Tidak hanya lingkungan sekolah saja, keluarga sebagai lingkungan terdekat siswa, juga bisa menjadi objek yang akan diteliti. Sebagai contoh yang penulis terapkan yaitu dengan membuat tulisan tentang silsilah keluarga mereka dan membuat autobiografi kehidupan mereka sendiri.
Hal lain yang mendukung tertariknya siswa terhadap pelajaran seorang guru adalah sikap dari guru itu sendiri terhadap siswanya. Memberikan tugas pada siswa adalah suatu hal yang bagus. Dengan kata lain, siswa diberikan kesempatan untuk belajar sendiri. Namun jika tugas itu terlalu berlebihan, tentu akan mendapat respons yang kurang baik dari siswa. Dalam hal ini, guru harus bisa mengatur kapan siswa itu harus mengerjakan tugasnya sendiri dan kapan harus berkelompok. Selain itu, memberikan reward and punishment atas hasil kerja siswa, memberikan image tersendiri bagi kita sebagai seorang guru. Artinya, guru memberikan tugas kepada siswa tidak sebagai formalitas, tetapi memang memiliki tujuan tersendiri.
Pada dasarnya, suka atau tidak terhadap suatu mata pelajaran, itu tergantung dari siswa itu sendiri. Namun sebagai tenaga pengajar, tidak ada salahnya untuk mencoba menarik minat siswa agar senang dengan pelajaran yang kita berikan. Semoga beberapa solusi di atas bisa memberikan sedikit pencerahan bagi kita semua.
“Orang yang tidak pernah gagal adalah orang yang tidak pernah melakukan apa-apa. Jangan takut untuk gagal, karena orang yang hebat adalah orang yang bisa bangkit dari kegagalan. HISTORIA MAGISTRA VITAE ”

Sabtu, Mei 06, 2006

Nasib Pendidik dan Pendidikan : Tantangan Guru di Masa Depan

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta arus globalisasi telah membawa perubahan dihampir semua aspek kehidupan manusia. dalam rangka menghadapi berbagai permasalahan yang ditimbulkan oleh proses globalisasi di satu pihak dan proses demokratisasi dipihak lain, sangat diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas. tentu saja hal ini (SDM) yang berkualitas ini dapat dibentuk salah satunya yaitu melalui proses pendidikan.
setiap proses pendidikan dalam lembaga manapun membutuhkan suatu program kurikulum yang serasi sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, baik secara institusional maupun secara instruksional. Para calon ahli pengembangan kurikulum bukan saja harus menguasai teori, prinsip dan strategi pengembangan kurikulum, akan tetapi juga harus mampu melaksanakan usaha-usaha pengembangan kurikulum di sekolah dan diberbagai lembaga pendidikan lainnya. Kemampuan-kemampuan ini dapat diperoleh melalui berbagai cara, baik di kampus maupun di lapangan. Oleh karena itu, untuk membentuk sumber daya manusia yang berkualitas, maka diperlukan suatu program pendidikan yang berkualitas pula. salah satu upaya mengarah ke arah sana adalah dengan perbaikan dan pengembangan kurikulum. Tahun 2004, dikeluarkan satu model kurikulum baru. dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi, karena memang satu karakter khusus dalam kurikulum 2004 ini adalah dengan lebih mengedepankan kompetensi yang dimiliki oleh siswa. sehingga guru tidak hanya melakukan transfer of knowledge dan pembelajaran tidak teacher oriented. Melainkan dalam kurikulum 2004 ini, guru dituntut untuk dapat merangsang motivasi, kemampuan dan bakat siswa agar mau mengembangkannya. selain itu siswa juga harus menjadi pusat pembelajaran. memang ini akan menjadi bermanfaat jika guru memahami bagaimana menerapkan kurikulum 2004 ini dalam proses pembelajaran. disinilah yang menjadi permasalahan, dimana dengan adanya perubahan kurikulum ini, maka guru juga harus mengubah sistem pembelajaran di kelas. sebab itu sebagian guru justru sering mengeluh dengan adanya perubahan ini.
Dalam kurikulum 2004 ini, guru dituntut untuk membuat suatu rencana pengajaran dan silabus. ini pula yang kadang membuat guru itu malas untuk menyusunnya. bahkan sering muncul anggapan, kalau sudah dikelas semua nya akan terfokus pada sumber yang digunakan (buku teks siswa). lebih parah lagi kalau hanya menggunakan LKS (lembar kerja siswa). bukan hal yang salah memang, akan tetapi kalau hanya menggunakan satu sumber saja, bagaimana bisa menanamkan ke-kritisan dalam diri siswa. inilah yang harus dipikirkan oleh tenaga pendidik (guru). Belum kelar masalah penerapan KBK dalam pembelajaran, muncul lagi kabar bahwa kurikulum 2004 akan ditarik lagi dan akan dikeluarkan kurikulum 2006 sebagai gantinya. Menarik memang jika mencermati dinamika perkembangan kurikulum pendidikan di Indonesia. Entah apa pula yang ada dalam benak para penyusun kurikulum, pernahkah mereka memikirkan juga bagaimana menerapkannya di lapangan?atau mereka hanya pintar dalam tataran idealis? kita lihat saja nanti setelah dikeluarkan dan ditetapkan kurikulum 2006, apakah akan ada lagi kurikulum berikutnya?
itu baru dari satu sisi, bagaimana upaya dalam membangun pendidikan yang berkualitas untuk menciptakan SDM yang berkualitas dalam menghadapi tantangan zaman. lalu bagaimana dengan nasib pendidik itu sendiri. Sudah sejak dulu yang namanya guru selalu mengeluh soal kesejahteraan mereka. gaji yang kecil, fasilitas yang kurang dan banyak lagi keluhan lainnya. pemerintah sendiri sebenarnya tidak tinggal diam. mulai dari rencana pemerataan pendidikan, 20 % dana pendidikan, dana subsidi BBM dan yang terakhir adalah Undang-Undang Guru dan Dosen. Namun itu semua hanya bersifat utopis (kecuali mungkin yang terkahir). semua hanya janji-janji manis yang diperbuat oleh pemerintah. pemerataan pendidikan masih belum berjalan dengan semestinya. masih banyak sekolah-sekolah yang tidak layak pakai, tetapi masih tetap digunakan. saya jadi ingat cara yang diusulkan oleh kandidat menteri di negara "tetangga" yaitu Republik BBM, yang mengusulkan bahwa untuk mengantisipasi keruntuhan bangunan karena tidak layak pakai, maka proses pembelajaran dilakukan di bawah jalan layang. ini merupakan suatu kritik yang sangat tajam. sudah tidak mampukah pemerintah dalam membangun Sekolah? anggaran dana untuk pendidikan pun tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan. dana subsidi BBM pun tidak jelas. maka ditetapkannya Undang-Undang GUru dan Dosen merupakan harapan yang sangat ditunggu-tunggu oleh tiap tenaga pendidik. semoga saja ini dapat terwujud, agar terbentuk SDM-SDM yang berkualitas.

Jumat, Desember 16, 2005

Sistem Budaya Pada Masyarakat Wulangsari

Secara garis besar hal-hal yang akan dibahas pada karya tulis ini adalah mengenai unsur – unsur universal kebudayaan yang dalam bukunya Koentjaraningrat menjelaskan atau menyebutkan ketujuh unsur tersebut seperti tertulis di awal.

Bahasa
Dalam kebudayaan, bahasa merupakan salah satu unsur yang penting. Budaya dan bahasa memiliki keterkaitan yang cukup erat, dimana bahasa merupakan alat yang digunakan untuk mempelajari dan mewariskan kebudayaan bagi setiap manusia. Sejak kecil anak sudah diperkenalkan dengan berbagai bahasa, baik bahasa isyarat maupun bahasa vocal. Bahasa ini kemudian akan sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu berbicara. Kebutuhan akan kemampuan berbahasa berjalan seiringan dengan kebutuhan manusia untuk berinteraksi social dengan sesamanya. Syarat untuk terjadinya interaksi social tersebut adalah dengan adanya kontak dan komunikasi. Bahasa inilah yang kemudian digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi dan melakukan kontak social tersebut.
Kemampuan berbahasa seseorang juga akan memberikan citra tersendiri bagi dirinya. Dalam artian bahwa ketika bahasa yang digunakannya dalam kehidupan sehari-hari baik dan sopan, maka orang lain pun akan memberikan penghargaan yang sama. Namun bukan berarti bahwa tindakannya juga akan sesuai dengan bicaranya atau bahasanya. Bukankah ada istilah bahwa lain di mulut lain di hati. Selain itu, kemampuan dalam berbahasa juga bisa memberikan dampak yang negative. Pernah dengar istilah mulut mu adalah maut mu ? setidaknya ini menunjukkan bahwa kita harus pandai-pandai menjaga pembicaraan atau perkataan yang keluar dari mulut kita.
Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Wulangsari adalah bahasa Sunda. Sama dengan daerah-daerah yang lainnya (dalam lingkup kecamatan Malingping) yang juga menggunakan bahasa sunda sebagai bahasa sehari-harinya. Hal ini menunjukkan bahwa daerah Wualngsari merupakan bagian dari suku sunda. Menurut orang-orang di luar Banten, bahasa yang digunakan oleh masyarakat Wulangsari ini adalah bahasa sunda kasar. Padahal menurut mereka (masyarakat Wulangsari), bahasa yang digunakan tidak seperti apa yang diungkapkan tadi. Dalam hal ini, penulis melihat adanya perbedaan makna kata dan juga intonasinya inilah yang menyebabkan adanya anggapan tersebut. Hal ini juga menunjukkan bahwa kebudayaan setiap daerah berbeda-beda sesuai dengan perkembangannya. Pada kehidupan sehari-hari, bahasa sunda yang halus juga sering digunakan, terutama ketika berbicara dengan orang yang lebih tua atau yang dihormati. Selain bahasa sunda, ada juga sekelompok masyarakat yang menggunakan bahasa daerahnya masing-masing, seperti bahasa padang dan jawa. Akan tetapi bahasa tersebut hanya digunakan ketika berbicara dengan komunitasnya sendiri.

Sistem Sosial
Kajian sistem sosial selalu tidak terlepas dari adanya interaksi sosial dalam kahidupan manusia, terutama keluarga sebagai unit sosial yang terkecil. Hal ini juga didasarkan pada kodrat manusia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Dalam sistem sosial ini, terdapat juga pengaturan tentang perkawinan, tempat tinggal dan sistem kekerabatan yang mana semua hal tadi akan membentuk suatu interaksi sosial diantara sesama manusia. Keluarga mengatur jaringan sosial antar individu berdasarkan perkawinan, yang kemudian akan berlanjut ke tahap pemilihan tempat tinggal, dan berpengaruh terhadap sistem kekerabatan.
Dalam kehidupan sosial masyarakat Wulangsari, sistem perkawinan tidak mempunyai aturan yang khusus, seperti eksogami atau endogami. Pada dasarnya perkawinan dilakukan atas dasar suka sama suka. Perkawinan yang dilakukan pun didasarkan pada aturan agama yang berlaku dan yang diharuskan oleh pemerintah atau sesuai dengan aturan pemerintah.
Setelah menikah pun, pasangan tersebut bebas menentukan untuk tinggal dimana, apakah itu di pihak laki-laki atau di pihak perempuan, dalam kata lain bersifat Ambilokal, atau pasangan yang baru menikah tersebut tinggal di rumahnya sendiri terpisah dengan orang tuanya masing-masing. Biasanya hal yang terakhir ini terjadi ketika kehidupan mereka sudah mapan.
Sistem kekerabatan yang ada di wulangsari ini, sama halnya dengan kehidupan di desa-desa lainnya. Dimana, jika dirunut asal usulnya pasti masih satu keturunan atau keluarga. Dalam artian bahwa satu rumah dengan rumah lainnya merupakan saudara.
to be continued

Malingping

Malingping merupakan salah satu kecamatan di bagian selatan Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Seperti halnya di daerah-daerah lain, kecamatan dibagian selatan Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, itu ditandai dengan berdirinya lembaga-lembaga pemerintahan, antara lain kantor kecamatan, kantor kepolisian sektor (Polsek), dan lain-lain. Kedua kantor itu menghadap ke alun-alun yang terdapat pohon asem tua. Pohon asem itulah yang kemudian mengilhami Tim Investigasi kasus Peledakan Bom Bali 1 dalam memberi identitas jaringan kelompok imam samudra di Malingping dengan sebutan „kelompok Asem“. Disebelah barat alun-alun , berdiri Masjid Baiturachim yang setiap pekannya diadakan pengajian rutin. disamping kiri kantor kecamatan, terdapat kantor Telekomunikasi yang sering digunakan oleh masyarakat sekitar untuk melakukan hubungan komunikasi lewat saluran telephone. Tepat di depan pohon asem terdapat lapangan basket yang dipakai latihan para pemuda Malingping di pagi dan sore hari. Sering juga diselenggarakan pertandingan Basket Ball, biasanya ketika bulan Agustus.
Tidak jauh dari kantor lembaga-lembaga pemerintahan itu, sebuah pasar selalu ramai dengan penjual dan pembeli. Seperti juga pasar-pasar lain di pinggir jalan raya, aktivitas perdagangan di pasar Malingping ini sering melebar hingga memenuhi bahu jalan. Tak jarang pasar tumpah itu juga menimbulkan kemacetan meski hanya kecil. Puluhan ojek berjajar di sepanjang pinggir jalan sekitar pasar lama, tepatnya di pertigaan jalan Malingping atau masyarakat sekitar biasa menyebutnya Parapatan. Barang yang diperdagangkan mencakup sembako atau barang kebutuhan sehari-hari dan barang lainnya seperti elektronik dan bahan bangunan.
Secara geografis, Kecamatan Malingping terletak di Wilayah Provinsi Banten, tepatnya di sebelah selatan ibukota Kabupaten Lebak. Menurut keadaan alam, pada umumnya merupakan wilayah pantai dan sebagian lagi adalah daerah persawahan dengan iklim atau musim yang berlaku hanya dua yaitu hujan dan kemarau. Sedangkan cuacanya terbilang panas. Wilayah Kecamatan Malingping ini merupakan salah satu kecamtan dari 28 kecamatan yang ada di wilayah kabupaten DT II Lebak. Untuk masuk Malingping, ada tiga jalan utama, yaitu pertama dari Pandeglang melalui Saketi dan Kadupandak, kedua dari Rangkasbitung melalui Gunung Kencana dan Gunung Kendeng, dan ketiga dari Pelabuhan Ratu melalui Cilangkahan. Wilayah Malingping diapit Samudera Hindia dan Pegunungan Kendeng. Daerah ini juga berbatasan dengan Cijaku (sebelah utara), Samudera Hindia (sebelah Selatan), Kabupaten Pandeglang (sebelah Timur), dan Kecamatan Panggarangan dan Wanasalam (sebelah barat).
Dalam menjalankan pemerintahannya, Kecamatan Malingping membawahi beberapa desa, diantaranya yaitu Malingping Utara, Malingping Selatan, Rahong, Sanghiang, Sukaraja, Kersaratu, Kadujajar, Cilangkahan, Sukamanah, Pagelaran, Bolang dan lainnya. Di desa Malingping Utara inilah terdapat satu daerah yang bernama Wulangsari.
Tingkat pendidikan di Malingping ini terbilang tinggi, rata-rata lulusan SMA/sederajat. Ada pula yang menjadi sarjana. Selain itu, sarana pendidikan yang ada juga cukup mendukung. Itu kalau kita lihat di kotanya. Di daerah pedalamannya juga terdapat fasilitas pendidikan seperti sekolah, hanya saja kondisi yang sedikit berbeda dengan di kota, bangunan yang tersedia masih pas-pasan dan dapat dikatakan tidak layak pakai mengingat perkembangan zaman yang sudah sangat pesat. Jalan untuk mencapai daerah tersebut juga masih belum bagus, sehingga permasalahan yang terjadi adalah kekurangan tenaga pengajar. Berdasarkan informasi memang sekarang ini di daerah Malingping -khususnya- masih kekurangan tenaga pengajar. Perguruan tinggi pun sudah mulai bermunculan seperti jamur di musim hujan.
Seiring dengan tingkat pendidikan yang tinggi, tentu saja juga mempengaruhi tingkat pengetahuan yang dimiliki. Perkembangan teknologi pun masih bisa diikuti atau istilah lain mungkin bisa dikatakan tidak gaptek-gaptek teuing. Telephone selular sudah tersedia, komputer sudah lebih dulu masuk setelah media elektronik seperti Televisi dan Radio dapat dikonsumsi. Bukan berarti bahwa kehidupan di Malingping tenang-tenang saja, tanpa ada sisi gelapnya. Minuman Keras dan Narkoba juga sudah mulai menyebar dan dikonsumsi oleh sebagian pemuda di Malingping. Hal ini menunjukkan bahwa daerah Malingping ini merupakan daerah yang terbuka. Dalam artian bahwa budaya luarpun bisa masuk dan berkembang. Akan tetapi ini tidak lepas dari pengawasan aparat keamanan dan juga masyarakatnya. Beberapa kali terjadi pemusnahan masal Miras dan juga razia – razia obat terlarang. Akibatnya, mereka yang ingin mengkonsumsi barang haram tersebut biasanya secara sembunyi-sembunyi.
Tingkat kejahatan yang terjadi tidak terlalu sering. Pencurian kendaraan bermotor yang dominan. Tapi kejamnya lagi, yang punya kendaraannya itu kadang juga dibunuh secara keji. Mengingat memang daerah di Malingping banyak yang sepi-sepi dan rawan pencurian kendaraan bermotor. Bentrokan antar warga pun jarang terdengar, kecuali ada event-event khusus, seperti sepak bola. Tak jarang kedua team saling adu jotos dan memancing kemarahan supporternya, sehingga terjadilah bentrokan tersebut. Itu juga ga berlangsung lama, berkat kesigapan panpel dan aparat keamanan setempat.
Dalam sistem kepercayaan, sebagian besar masyarakat Malingping ini merupakan pemeluk agama Islam. Ada beberapa keluarga saja yang non-Islam, biasanya mereka warga pendatang. Kegiatan-kegiatan keagamaan sering dilakukan. Misalnya ceramah, pengajian, tarawih, takbiran dan lainnya. Sedangkan untuk kegiatan keagamaan lainnya, tidak pernah dilakukan secara besar-besaran, mengingat prosentase golongan non-islam sangat sedikit dibanding Muslim. Seiring dengan perkembangan pendidikannya, mulai muncul sebuah organisasi berbasis Islam dan beraroma pendidikan, yaitu Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia komisariat Lebak Selatan (KAMMI Komsat Lebak Selatan).Satu hal yang menarik, yaitu walaupun sangat memegang kuat agamanya, akan tetapi masih juga sering percaya terhadap mitos-mitos dan kekuatan spiritual. Kekuatan ini biasanya dipakai pada saat pertandingan olah raga. Jadi ketika bertanding, unsur non teknis ini kadang menjadi penentu hasil pertandingan tersebut. Siapa yang „kuat“ maka ia lah yang jadi pemenang.
Sebenarnya masih banyak hal-hal lainnya mengenai daerah Malingping ini, dan semoga dimasa yang akan datang atau bahkan saat ini, tumbuh dalam diri kita semua keinginan untuk mengkaji lebih dalam lagi mengenai hal tersebut. Atau mungkin temen2 sudah ada keinginan kearah sana? Wujudkan itu! Jangan hanya menjadi angan – angan belaka. Sepakat ya...!